Pages

Rabu, 14 Agustus 2013

Penggunaan Pendekatan Pragmatik dalam Upaya Meningkatkan Keterampilan Berbicara Bahasa Indonesia Kelas VII di SMP Negeri 19 Percontohan Banda Aceh


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang Masalah
      Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan bangsa Indonesia.
Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global.

1
 
             Salah satu aspek keterampilan berbahasa yang sangat penting peranannya dalam upaya melahirkan generasi masa depan yang cerdas, kritis, kreatif, dan  berbudaya adalah keterampilan berbicara. Dengan menguasai keterampilan berbicara, peserta didik akan mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara cerdas sesuai konteks dan situasi pada saat dia sedang berbicara. Keterampilan berbicara juga akan mampu membentuk generasi masa depan yang kreatif sehingga mampu melahirkan tuturan atau ujaran yang komunikatif, jelas, runtut, dan mudah dipahami. Selain itu, keterampilan. berbicara juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang kritis karena mereka memiliki kemampuan untuk mengekspresikan gagasan, pikiran, dan perasaan kepada orang lain secara runtut dan sistematis. Bahkan, keterampilan berbicara juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang berbudaya karena sudah terbiasa dan terlatih untuk berkomunikasi dengan pihak lain sesuai dengan konteks dan situasi tutur pada saat dia sedang berbicara.
            Berdasarkan hasil observasi dan wawancara  dengan Bapak Drs. Abdul Wahab guru bahasa Indonesia di SMP Negeri 19 Percontohan Banda Aceh menunjukkan bahwa keterampilan berbicara siswa kelas VII di SMP Negeri 19 Percontohan Banda Aceh berada pada tingkat yang rendah, diksi (pilihan kata)-nya payah, kalimatnya tidak efektif, struktur tuturannya rancau, alur tuturannya pun tidak runtut dan kohesif. Ketika menjawab pertanyaan- pertanyaan yang diajukan oleh guru seringkali siswa hanya diam. Sebagian siswa dapat menjawab pertanyaan guru, namun hanya dengan jawaban singkat. Seringkali juga siswa ketika menjawab pertanyaan guru, namun menggunakan bahasa daerah (bahasa jawa kromo inggil). Para siswa mengalami kesulitan dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara lancar, membangun pola penalaran yang masuk akal, dan menjalin kontak mata dengan pihak lain secara komunikatif dan interaktif pada saat berbicara.
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu kiranya diadakan suatu penelitian pendidikan. Dalam hal ini penulis akan mengadakan penelitian dengan topik yang berjudul ”Penggunaan Pendekatan Pragmatik dalam Upaya Meningkatkan Keterampilan Berbicara Bahasa Indonesia  Kelas VII di SMP Negeri 19 Percontohan Banda Aceh”.




1.2. Rumusan Masalah
             Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan rumusan masalah penelitian ini, yaitu:  bagaimana keterampilan berbicara siswa kelas VII di SMP Negeri 19 Percontohan Banda Aceh setelah menggunakan pendekatan pragmatik dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia?

1.3. Tujuan Penelitian
             Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk memaparkan keterampilan  berbicara siswa kelas VII di SMP Negeri 19 Percontohan Banda Aceh setelah menggunakan  pendekatan pragmatik dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia.

1.4. Hipotesis Penelitian
      Jika pendekatan pragmatik diterapkan dalam pembelajaran bahasa  Indonesia, maka dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas VII di SMP Negeri 19 Percontohan Banda Aceh.

1.5.. Manfaat Penelitian
      Secara praktis hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Siswa
Keterampilan berbicara siswa kelas VII di SMP Negeri 19 Percontohan Banda Aceh yang menjadi subjek penelitian ini mengalami peningkatan signifikan.

2. Guru
Para guru dapat mengetahui langkah-langkah  pendekatan pragmatik sebagai upaya dalam pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa menggunakan bahasa Indonesia. Bahkan guru di tingkat satuan pendidikan yang lebih tinggi, seperti SMP/MTs dan SMA/SMK/MA, diharapkan juga menggunakan hasil penelitian ini dalam upaya melakukan inovasi pembelajaran bahasa Indonesia.
3.  Lembaga yang diteliti
            Penelitian dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk mencapai hasil-hasil yang optimal dalam pelaksanaan pembelajaran di SMP Negeri 19 Percontohan Banda Aceh.
4.  Peneliti
Penelitian ini adalah sebagai sarana untuk memperluas wawasan dan memperkaya pengetahuan (keilmuan) dan juga untuk menambah pengalaman.
5. Bagi Jurusan
            Hasil penelitian sangat bermanfaat dalam rangka perbaikan pembelajaran. Sedangkan bagi dosen yang lain, hasil penelitian dapat digunakan sebagai referensi dalam memilih dan menerapkan suatu pendekatan pembelajaran yang sesuai untuk mencapai tujuan atau kompetensi tertentu.
5. Bagi Fakultas / Universitas
            Sebagai wahana untuk menjalankan tugasnya dalam mengemban Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu melaksanakan: 1) pendidikan dan pembelajaran, 2) penelitian, dan 3) Pengabdian kepada masyarakat. Mengingat fakultas ini memiliki tugas menghasilkan calon-calon guru profesional di masa depan. Dengan demikian hasilnya dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk mempersiapkan calon guru di masa yang akan datang, dan juga sebagai pengembangan keilmuan dalam dunia pendidikan.

1.6. Ruang Lingkup Pembahasan
      Agar pembahasan ini lebih mengarah dan tidak menimbulkan kekeliruan atau meluasnya pembahasan, maka perlu dibatasi masalah-masalah yang akan dibahas. Adapun ruang lingkup pembahasannya adalah sebagai berikut:
1.      Penggunaan pendekatan pragmatik dalam penelitian ini sifatnya adalah terbatas, yaitu di dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran bahasa Indonesia khususnya untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas VII di SMP Negeri 19 Percontohan Banda Aceh;
2.      Proses pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan pendekatan pragmatik untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas VII di SMP Negeri 19 Percontohan Banda Aceh yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dan siswa di kelas VII.
3.      Inti dari penelitian ini adalah membahas tentang keterampilan berbicara siswa kelas VII di SMP Negeri 19 Percontohan Banda Aceh dalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan pendekatan pragmatik.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA

            Banyak karya ilmiah yang meneliti tentang pembelajaran bahasa Indonesia, dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan berbicara peserta didik ataupun meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian ini bukan merupakan penelitian awal, artinya bahwa sebelum penelitian ini sudah ada penelitian-penelitian yang mengangkat tema atau topik yang sama. Ada beberapa contoh judul penelitian yang peneliti  temukan dari hasil karya penelitian terdahulu sebagai pembanding, antara lain adalah: ”Pengalaman Berinovasi Guru SMA dalam Pengajaran Bahasa Indonesia  (disusun oleh Agus Gerrad Senduk pada Tahun 2005)”, dan ”Penggunaan Pendekatan Pragmatik dalam Upaya Meningkatkan Keterampilan Berbicara bagi Siswa SMPN 3 Tarakan Kalimantan Timur (disusun oleh Yones P pada tahun 2007)”, dan lain-lain.

2.1. Keterampilan Berbicara dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

6
 
            Dalam lampiran peraturan menteri pendidikan nasional republik Indonesia  nomor 20 tahun 2003 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan  menengah, khususnya tentang standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran bahasa Indonesia SMP/MTsN secara eksplisit dinyatakan bahwa bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didikmengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
            Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global.
      Dengan standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia semacam itu
diharapkan:
1.      Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri;
2.      Guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar;
3.      Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya;
            Adapun tujuan mata pelajaran bahasa Indonesia adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1.      Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis;
2.      Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara;
3.      Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan;
4.      Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial;

Secara garis besar tujuan utama pengajaran bahasa Indonesia adalah agar anak-anak dapat berbahasa Indonesia dengan baik. Itu berarti agar anak-anak mampu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dengan baik menggunakan bahasa Indonesia.
Melalui harapan tersebut, pengajaran bahasa Indonesia dikelola agar anak-anak memiliki keterampilan-keterampilan praktis berbahasa Indonesia sebagai berikut:
1. Menulis laporan ilmiah atau laporan perjalanan;
2. Membuat surat lamaran pekerjaan;
3. Berbicara di depan umum atau berdiskusi;
4. Berpikir kritis dan kreatif dalam membaca;
5. Membuat karangan-karangan bebas untuk majalah, koran, surat-surat     
    pembaca, brosur-brosur, dan sebagainya.
            Apa pun bahan atau aturan-aturan bahasa yang diberikan kepada anak-anak, dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan praktis semacam itu. Sedangkan, ruang lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia mencakupi komponen- komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat ditegaskan bahwa keterampilan berbicara merupakan salah salah satu aspek kemampuan berbahasa yang wajib dikembangkan di MI. Keterampilan berbicara memiliki posisi dan kedudukan yang setara dengan aspek keterampilan mendengarkan, membaca, dan menulis.
Sementara itu, standar kompetensi dan kompetensi dasar keterampilan  berbicara dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP/MTsN kelas VII Semester I berdasarkan Standar Isi dalam lampiran peraturan mendiknas nomor 18/2006 standar kompetensi keterampilan berbicara mata pelajaran bahasa Indonesia SMP/MTsN Kelas VII semester I adalah mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan secara lisan melalaui menceritakan hasil pengamatan, menyampaikan pesan atau informasi, membahas isi buku, mengkritik sesuatu,berpidato, berdiskusi, dan memerankan drama anak. Dengan kompetensi dasarmenyampaikan pesan / informasi yang diperoleh dari narasumber.

2.2. Hakikat Berbicara
            Dalam kamus besar bahasa Indonesia dijelaskan bahwa berbicara adalah berkata; bercakap; berbahasa; atau melahirkan pendapat (dengan perkataan, tulisan, dsb), atau berunding.
Sementara itu menurut Tarigan dengan menitikberatkan pada kemampuan pembicara menyatakan :
Berbicara merupakan kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi terhadap kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Sedangkan, sebagai bentuk atau wujudnya, berbicara dinyatakan sebagai suatu alat untuk mengomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan kebutuhan sang pendengar atau penyimak.

 Hal senada juga dikemukakan oleh Mulgrave yang menyatakan, “berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa atau kata-kata untuk mengekspresikan pikiran”.
Selanjutnya Mulgrave menyatakan,
Berbicara merupakan sistem tanda yang dapat didengar dan dilihat yang memanfaatkan otot-otot dan jaringan otot manusia untuk mengomunikasikan ide-ide. Berbicara juga dipahami sebagai bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor fisik, psikis, neurologis, semantik, dan linguistik secara ekstensif sehingga dapat digunakan sebagai alat yang sangat penting untuk melakukan kontrol sosial.

Dari sejumlah pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa berbicara pada hakikatnya adalah merupakan ungkapan pikiran dan perasaan seseorang dalam bentuk bunyi-bunyi bahasa. Dalam konteks demikian, keterampilan berbicara bisa dipahami sebagai keterampilan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Pendengar menerima informasi melalui rangkaian nada, tekanan, dan penempatan jeda. Jika komunikasi berlangsung secara tatap muka, aktivitas berbicara dapat diekspresikan dengan bantuan mimik dan pantomimik pembicara.
Merujuk pada pendapat tersebut penulis berpendapat, bahwa keterampilan berbicara pada hakikatnya merupakan keterampilan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk menceritakan, mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan kepada orang lain.
Keterampilan berbicara dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP/MTsN saat ini, arah pembinaan bahasa Indonesia di sekolah dituangkan dalam tujuan pengajaran bahasa Indonesia yang secara eksplisit dinyatakan dalam kurikulum. Menurut Brown dan Yule yang kemudian dikutip oleh Nunan menyatakan, “keterampilan berbicara tidak dapat diperoleh secara begitu saja melainkan harus dipelajari dan dilatih”.

2.3. Pengertian Pragmatik
      Di dalam kamus besar bahasa Indonesia terdapat kata pragmatik, pragmatis, dan pragmatisme. Kata pragmatik di dalam kamus itu diberi makna sebagai berikut:
1.      syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi,
2.      susunan pemerintahan, dan
3.      berfaedah untuk umum, memberikan hasil  yang berguna untuk menambah pengerahuan dan berdasarkan kenyataan.
Menurut Charles Morris, istilah pragmatik yang kita gunakan dalam kaitannya dengan pengajaran bahasa berasal dari pembagian bahasa terdiri dari tiga macam, yaitu:
1.      syntactics atau sintaksis, adalah kajian tentang hubungan antara unsur-unsur bahasa,
2.      semantics atau semantic, yakni kajian tentang hubungan unsur-unsur bahasa dengan maknanya, dan
3.      pragmatics atau pragmatik, yakni kajian hubungan unsur-unsur bahasa dengan pemakai bahasa.
Menurut Suyono yang berdasarkan pendapat dari Levinson menyatakan, “pragmatik adalah kajian tentang kemampuan pemakai bahasa untuk mengaitkan kalimat-kalimat dengan konteks yang sesuai bagi kalimat-kalimat itu”.
      Dalam kehidupan sehari-sehari sering kita menggunakan istilah yang fragmentaris, “Engkau hendak pergi kemana?”, “Ke pasar”. Kalimat yang fragmentaris ini biasanya hanya dipakai dalam konteks percakapan oleh karena baik pembicara maupun pendengar telah mengetahui apa yang dimaksud. Oleh karena kita memakai dasar konteks (bagaimana kalimat ini digunakan), maka kita berhubungan dengan bidang kajian pragmatik.
      Kegiatan berbahasa secara aktual adanya sangat kompleks. Pada saat kita menggunakan bahasa itu banyak faktor yang harus diperhatikan agar wujud bahasa yang dihasilkan bisa diterima oleh orang lain dan dapat menyampaikan pesan secara efisien dan efektif. Kegiatan berbahasa dalam peristiwa komunikatif menurut pandangan pragmatik wajib menerapkan secara komprehensif prinsip pemakaian bahasa sebagai berikut:
1. Penggunaan bahasa memperhatikan aneka aspek situasi ujaran;
2. Penggunaan bahasa memperhatikan prinsip-prinsip sopan-santun;
3. Penggunaan bahasa memperhatikan prinsip-prinsip kerja sama
4. Penggunaan bahasa memperhatikan faktor-faktor penentu tindak
    komunikatif.
            Pragmatik mengarah kepada kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi yang menghendaki adanya penyesuaian bentuk (bahasa) atau ragam bahasa dengan faktor-faktor penentu tindak komunikatif. Faktor-faktor tindak komunikatif itu antara lain adalah: siapa berbicara dengan siapa, untuk tujuan apa, dalam peristiwa apa, jalur yang mana (lisan atau tulisan), dan dalam peristiwa apa (bercakap-cakap, ceramah, atau upacara).
            Suyono mendefinisikan pragmatik sebagai telaah mengenai makna tuturan (utterance) menggunakan makna yang terikat konteks. Sedangkan memperlakukan bahasa secara pragmatik ialah memperlakukan bahasa dengan mempertimbangkan konteksnya, yakni penggunaannya pada peristiwa komunikasi.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pragmatik pada hakikatnya mengarah kepada perwujudan kemampuan pemakai bahasa untuk menggunakan bahasanya sesuai dengan faktor-faktor dalam tindak komunikatif dengan memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan bahasa secara tepat.


2.4. Ruang Lingkup Kajian Pragmatik
             Levinson menyebutkan bahwa pragmatik sebagai bidang tersendiri dalam ilmu bahasa berobjek kajian: deiksis, implikatur, praanggapan, pertuturan, dan struktur wacana.
          Pokok kajian pragmatik tersebut akan diulas di bawah ini.
2.4.1. Deiksis
      Deiksis sebagai objek kajian pragmatik dimaksudkan sebagai bentuk-bentuk bahasa yang tidak memiliki acuan yang tetap. Makna bentuk-bentuk bahasa yang dikaji pragmatik ditentukan oleh konteksnya.
2.4.2. Implikatur Percakapan
      Implikatur percakapan merupakan salah satu ide yang sangat penting dalam pragmatik. Implikatur percakapan pada dasarnya merupakan suatu teori yang sifatnya  inferensial, suatu teori tentang bagaimana orang menggunakan bahasa, keterkaitan makna suatu tuturan yang tidak terungkapkan secara literal pada tuturan itu. Brown menjelaskan,  “Implicature means what a speaker can imply, suggest, or mean, as distinct from what the speaker literally says”.  Implikatur percakapan berarti apa yang diimplikasikan, disarankan, atau dimaksudkan oleh
penutur tidak terungkapkan secara literal dalam tuturannya.
2.4.3. Praanggapan
      Jika suatu kalimat diucapkan, selain dari makna yang dinyatakan dengan pengucapan kalimat itu, turut tersertakan pula tambahan makna yang tidak dinyatakan tetapi tersiratkan dari pengucapan kalimat itu. Pengertian inilah yang dimaksud dengan praanggapan. Kalimat yang dututurkan dapat dinilai tidak relevan atau salah bukan hanya karena pengungkapannya yang salah melainkan juga karena praanggapannya yang salah. Stalnaker menyatakan, “presuppositions are what is taken by speaker to be the common ground of the participants in a conversation”.Praanggapan adalah apa yang digunakan oleh pembicara sebagai dasar utama bagi lawan bicara dalam percakapan.

2.5. Pragmatik sebagai Pendekatan Pengajaran Bahasa Indonesia
Ihwal pendekatan pragmatik dalam periodisasi sejarah pengajaran bahasa memang tidak disebutkan secara jelas dan tegas. Akan tetapi, Bambang Kaswanti Purwo menyamakan pendekatan pragmatik dengan pendekatan omunikatif. Bambang Kaswanti Purwo menyatakan, “Pengajaran bahasa dengan pendekatan komunikatif lazim pula disebut sebagai pengajaran bahasa dengan pendekatan pragmatik”.
Pendekatan komunikatif yang muncul pada pertengahan tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an dilatarbelakangi oleh teori linguistik “kompetensi komunikatif”. Sebagai suatu pendekatan, kompetensi komunikatif dalam pengajaran bahasa harus memiliki landasan atau asumsi-asumsi teoretis,aspek-aspek tujuan, silabus, ciri-ciri kegiatan belajar dan mengajar, peranan guru, peranan siswa, materi pelajaran, dan prosedur pengajaran.
1. Tujuan Pengajaran
Menurut Richards dan Rodgers sebagaimana dikutip oleh Nuril Huda mengemukakan adanya lima tingkatan tujuan dalam pendekatan komunikatif. Kelima tingkatan tujuan tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Tingkat integratif dan isi. Tingkat ini mempersoalkan hakikat bahasa sebagai sarana eskpresi.
b.      Tingkat kebahasaan dan tingkat instrumental. Tingkat ini berkaitan dengan bahasa sebagai sistem semiotik dan objek belajar.
c.       Tingkat tujuan ekstrakebahasaan pendidikan umum yang berkenaan
dengan belajar bahasa di dalam kurikulum sekolah.
2. Silabus
Silabus nasional yang mengkhususkan kategori-kategori semantik-gramatikal  dan  kategori-kategori  fungsi  komunikatif  yang mengekspresikan kebutuhan siswa, merupakan salah satu model silabus yang diusulkan dalam pendekatan komunikatif.
3. Kegiatan Belajar dan Mengajar
Jenis praktik dan kegiatan yang sesuai dengan pendekatan komunikatif tidaklah terbatas. Setiap praktik atau pelatihan harus dapat memungkinkan siswa mencapai tujuan komunikatif yang tercantum dalam kurikulum, mengikutsertakan siswa dalam komunikasi, menawarkan penggunaan setiap proses komunikatif sebagai tukar informasi, pengenalan makna, dan interaksi.
4. Peranan Siswa
      Peranan siswa dalam pendekatan komunikatif dilukiskan oleh Breen dan Candlin sebagai negosiator antara diri pribadi, proses belajar, dan objek belajar. Artinya, apa yang dikontribusikannya harus sama dengan apa yang diperolehnya dan ia belajar dalam ketergantungannya pada siswa-siswa lainnya.

5. Peranan Guru
      Sebagaimana dikemukakan oleh Breen dan Candlin ada dua peranan utama guru dalam pengajaran berpendekatan komunikatif, yaitu:
a.       Guru sebagai pemberi kemudahan proses komunikasi antara semua yang terlibat di kelas, dan antara mereka yang terlibat dengan berbagai kegiatan dan teks.
b.      Guru sebagai seorang yang terlibat secara mandiri dalam kelompok belajar mengajar.



BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Pendekatan dan Jenis Penelitian.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sebab dalam melakukan tindakan kepada subyek penelitian, yang sangat diutamakan adalah mengungkap makna, yakni makna dan proses pembelajaran sebagai upaya meningkatkan motivasi, kegairahan dan prestasi belajar melalui tindakan yang dilakukan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Bogdan dan Biklen dalam bukunya Wahidmurni bahwa ciri-ciri pendekatan kualitatif ada lima macam yaitu: menggunakan latar alamiah, bersifat deskriptif, lebih mementingkan proses daripada hasil, induktif, dan  makna merupakan hal yang esensial.
            Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian tindakan kelas tersebut merupakan penelitian kualitatif, meskipun data yang dikumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif, dimana uraiannya bersifat deskriptif dalam bentuk kata-kata. Lebih tepatnya, rancangan penelitian seperti itu dapat disebut penelitian deskriptif yang berorientasi pada pemecahan masalah, karena sesuai dengan aplikasi tugas guru dalam memecahkan masalah pembelajaran atau dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran.

18
 
Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan.
Sedangkan penelitian deskriptif menurut Mardalis adalah penelitian yang bertujuan untuk  mendiskripsikan apa-apa yang saat ini berlaku. Didalamnya terdapat  upaya  mendeskripsikan,  mencatat,  menganalisis  dan menginterprestasikan kondisi-kondisi yang sekarang ini terjadi atau ada.

3.2. Setting Penelitian
1. Lokasi Sekolah
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMP Negeri 19 Percontohan Banda Aceh. ini merupakan salah satu SMP Negeri yang terletak di desa Alue Blang Kota Banda Aceh.
2. Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitihan ini adalah seluruh siswa kelas kelas VII di SMP Negeri 19 Percontohan Banda Aceh Banyaknya siswa yang menjadi subjek penelitian ini sebanyak 55 siswa.
3. Mata Pelajaran
Penelitian ini dilakukan pada mata pelajaran yang sesuai dengan disiplin ilmu, yaitu mata pelajaran bahasa Indonesia aspek keterampilan berbicara pade materi pokok berwawancara dengan narasumber dan peloporannya.
4. Karakteristik Sekolah
Sekolah yang peneliti tempati merupakan salah satu dari madrasah yang bertempat di desa Alue Blang kecamatan Baiturrahman Kota Banda Aceh yang berdiri sejak tahun 2002. Sekolah ini mulai dibangun dan secara bertahap melengkapi sarana fasilitasnya hingga menjadi sekolah yang layak dipakai sebagai tempat kegiatan belajar mengajar
5. Karakteristik Siswa
             Dari hasil pengamatan peneliti dan wawancara, kondisi kelas VII di SMP Negeri 19 Percontohan Banda Aceh pada kegiatan belajar mengajar dalam kelas belum bisa dikatakan baik. Mereka kurang begitu antusias mengikuti pembelajaran,khususnya mata pelajaran bahasa Indonesia. Siswa dikelas VII ini cenderung ramai, tidak memperhatikan ketika proses belajar mengajar berlangsung. Tetapi jika diajar oleh guru yang mereka senangi, maka proses pembelajaran dapat berjalan dengan tenang dan efektif.

3.3. Data dan Sumber Data
1. Data primer
            Data primer merupakan data yang didapatkan dari orang pertama/ informan yang mengetahui secara jelas dan rinci tentang permasalahan yang sedang diteliti.
Dalam penelitian ini data primer berupa kata-kata, ucapan, dan prilaku subyek penelitian yang berkaitan dengan proses belajar mengajar dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas VII di SMP Negeri 19 Percontohan Banda Aceh.
2. Data sekunder
            Data sekunder adalah data yang bersumber dari dokumen-dokumen berupa catatan, perekaman data-data, dan foto-foto yang dapat digunakan sebagai data pelengkap. Data skunder dalam penelitian ini diperoleh dari bagian tata usaha.


3.4. Prosedur Pengumpulan Data
            Teknik pengumpulan data menurut Wolcoott sebagaimana yang dikutip oleh Nana Syaodih Sukmadinata dalam metode penelitian tindakan disebut sebagai strategi pekerjaan lapangan primer, yaitu melalui pengalaman, pengungkapan, dan pengujian.
            Untuk memperoleh data yang benar dan akurat dalam penelitian ini, maka  penulis menggunakan beberapa metode antara lain:
1.  Observasi
Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Yang dilakukan waktu pengamatan adalah mengamati gejala-gejala sosial dalam kategori yang tepat, mengamati berkali-kali dan mencatat segera dengan memakai alat bantu seperti alat pencatat, formulir dan alat mekanik.
2. Pengukuran Test Hasil Belajar
      Pengukuran test hasil belajar ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan berbicara siswa dengan melihat nilai yang diperoleh oleh siswa.
3.  Wawancara
      Wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang, melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dari seorang lainnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, berdasarkan tujuan tertentu.


4.  Metode Dokumentasi
Tidak kalah penting dari metode-metode lain adalah metode dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya.

3.5.. Tehnik Analisis Data
Analisis data adalah proses yang memerlukan usaha secara formal untuk mengidentifikasikan tema-tema dan menyusun hipotesa-hipotesa (gagasan-gagasan) yang ditampilkan oleh data, serta upaya untuk menunjukkan bahwa tema dan hipotesa tersebut didukung oleh data.
Kriteria keberhasilan hasil belajar ditentukan dengan cara melihat adanya peningkatan persentase siswa yang tuntas belajar yaitu persentase siswa yang tuntas pada siklus I lebih dari persentase siswa yang tuntas pada pra tindakan, dan persentase siswa yang tuntas pada sikus II lebih dari persentase siswa yang tuntas pada siklus I. Siswa dikatakan tuntas belajar jika mendapatkan skor ≥ 65. Perhitungan persentase siswa yang tuntas belajar sebagai berikut :


Keterangan :
P = persentase siswa yang tuntas belajar
n = banyak siswa yang tuntas belajar
N = banyak siswa keseluruhan
Selain terjadi peningkatan persentase siswa yang tuntas belajar, juga harus memenuhi kriteria ketuntasan belajar secara klasikal yaitu ≥ 70% siswa harus tuntas belajar.

3.6. Tahapan Penelitian
      Dalam penelitian kualitatif ada empat tahapan yang perlu dilakukan yaitu;
tahap pra lapangan, tahap pekerjaan lapangan, tahap analisis data dan tahap
pelaporan data.
1. Tahap pra lapangan
      Pada tahap ini yang harus dilakukan peneliti adalah:
a.       Menyusun rancangan penelitian, yang menurut Lexy Moleong disebut dengan usulan penelitian
b.      Memilih lapangan
c.       Mengurus perizinan
d.      Menjajaki dan menilai keadaan lapangan
e.       Memilih dan memanfaatkan informasi
f.       Menyiapkan perlengkapan penelitian
g.      Memperhatikan etika penelitian
2. Tahap pekerjaan lapangan
      Pada tahap pekerjaan lapangan ini ada tiga langkah yang harus dilakukan oleh peneliti, yaitu:
a.       Memahami latar penelitian dan persiapan diri
b.       Memasuki lapangan
c.       Berperanserta sambil mengumpulkan data
Langkah-langkah penelitian kelas mengacu pada model spiral dari Kammis dan Taggart. Pada model ini terdapat empat tahapan yang terdiri dari perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), refleksi (reflecting).




DAFTAR PUSTAKA

Agus Gerrad Senduk. 2005.  Pengalaman Berinovasi Guru SMA dalam Pengajaran Bahasa Indonesia  (studi deskriptif kualitatif tentang Implementasi Inovasi Pragmatik). http// www.yahoo.com

Arikunto, Suharsimi. 1998.  Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Rineka Cipta

Bambang Kaswanti Purwo. 1990. Pragmatik dan Pengajaran Bahasa: Menyibak Kurikulum 1984. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat  Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah.  Jakarta: BSNP

Chaedar Alwasilah, Furqanul Azies. 2000. Pengajaran Bahasa Komunikatif.Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Djogo Tarigan. 1990. Proses Belajar Mengajar Pragmatik. Bandung: Angkasa

Crystal, David, 1989.  The Cambridge of Encyclopedia of Language. Cambridge: Cambridge University Press

Kanisius. 1990. Pragmatik dan Pengajaran Bahasa. Yogyakarta

Kridalaksana. 1996. Kamus Sinonim Bahasa Indonesia. Ende-Flores: Nusa Indah

Kunjawa Rahardi. 2008. Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indosesia.Jakarta: Erlangga.


DOWNLOAD FILE DI SINI
KHASANAH ILMU
JUJUR - MUDAH - MURAH
http://khasanahilmuu.blogspot.com/2013/08/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About