Pages

Rabu, 14 Agustus 2013

HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN MALARIA DI PESISIR PANTAI

HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN MALARIA DI PESISIR PANTAI


1.1.  Latar Belakang
Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, kualitas kehidupan manusia, meningkatkan kesejahteraan manusia dan masyarakat serta untuk mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat. Sarana dan kebijakan pembangunan perumahan dewasa ini dirasakan pada golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah, daerah kumuh, perkotaan, daerah pedesaan dan daerah terpencil (GBHN, 1993).
Untuk kelangsungan hidupnya manusia memerlukan beberapa kebutuhan-kebutuhan pokok yang harus dimiliki sepanjang hidupnya. Dari beberapa kebutuhan tersebut terdapat tiga unsur utama diantaranya kebutuhan pokok meliputi pangan, sandang dan papan atau perumahan yang harus ada sejak manusia itu dilahirkan. (Suyono, 1985)
Manusia membutuhkan rumah sebagai tempat untuk berteduh atau berlindung diri dari gangguan cuaca atau Kondisi iklim yang kurang sesuai dengan tubuh manusia, untuk beristirahat mengadakan kegiatan rutin untuk memenuhi kesehatan jasmani bagi kelangsungan hidup seperti mandi, makan, tidur, juga tempat untuk berkumpul dengan seluruh keluarga dan lain-lain. Karena rumah mempunyai berbagai fungsi yang sangat penting bagi kehidupan manusia, maka rumah dan Kondisi lingkungannya yang tidak sehat dapat mempengaruhi derajat kesehatan jasmani maupun rohani bagi para penghuninya juga akan mempermudah timbulnya berbagai macam penyakit. (Azrul Azwar, 1980).

Perumahan yang sehat adalah perumahan yang memenuhi persyaratan antara lain memenuhi kebutuhan psikologis, memenuhi kebutuhan fisiologi, mencegah penularan dan mencegah kejadian kecelakaan (Suharmadi, 1985 ).
Dari hasil data statistik pembangunan perumahan di Indonesia tahun 1984, lembaga pembangunan rumah baik swasta maupun pemerintah hanya menyediakan 15% saja dari kebutuhan rumah, selebihnya dibangun oleh masyarakat sendiri, selanjutnya pada tahun 1990 lembaga pembangunan rumah swasta dan pemerintah membangun 706.939 unit rumah. Angka tersebut sangat kecil bila dibandingkan dengan kebutuhan penduduk akan perumahan sehat. (Depkes RI, 1990).
Salah satu penyakit yang ditimbulkan akibat rumah yang tidak sehat adalah Malaria. Dimana penyakit malaria merupakan penyakit yang erat kaitannya dengan Kondisi sanitasi rumah seperti tidak memasang kawat kasa pada ventilasi, Kondisi sarana air bersih, Kondisi tempat pembuangan sampah dan Kondisi sarana pembuangan air limbah, keadaan gantungan baju, genangan air disekitar rumah, jarak rumah dengan waduk/embung, jarak rumah dengan air payau/rawa-rawa hal ini akan berisiko menyebabkan penyakit Malaria. (Kusnindar, 1990).
Sejak tahun 1968, upaya pencegahan penyakit malaria telah diintegrasikan kedalam sistem kesehatan yang ada. Di mana pelaksanaan operasional diselenggarakan oleh Puskesemas dan jajaran lainnya di Kecamatan dan di tingkat Desa dengan bantuan dan bimbingan dari Kabupaten dan Provinsi. ( Dep Kes RI Dirjen PPM&PL, 2003).
Upaya untuk menekan angka kesakitan dan kematian malaria dilaksanakan melalui program pencegahan malaria yang kegiatannya antara lain meliputi ; perbaikan Kondisi sanitasi rumah masyarakat, penggunaan kelambu, pemasangan kawat kasa pada ventilasi rumah, menjaga Kondisi sarana penampungan air, memperhatikan kebersihan tempat pembuangan sampah dan kebersihan saluran SPAL yang kesemuanya ditujukan untuk memutus mata rantai penularan malaria. (Dep Kes RI Dirjen PPM&PL 2003 ).
Penyakit Malaria erat kaitanya dengan sanitasi perumahan yang tidak sehat dan tidak memenuhi syarat, karena sanitasi rumah yang tidak sehat dan memenuhi syarat akan mendatangkan risiko seseorang mengalami penyakit-penyakit berbasis lingkungan seperti Malaria (Depkes. 2002).
Di Provinsi Aceh dari penyebaran penyakit malaria di semua wilayah pegunungan dan daratan rendah, penyakit malaria paling banyak ditemukan di daerah pantai dan daerah pedalaman (pegunungan dan transmigarasi). Hal ini disebabkan adanya tempat perkembangan nyamuk Anopheles sebagai vektor penyakit malaria yang berada disekitar permukiman penduduk. Tempat - tempat perkembang biakan nyamuk Anopheles yang paling disenangi antara lain; lagun, muara sungai, dan rawa-rawa di daerah pantai, serta genangan-genagan air sungai yang mengalir di daerah pegunungan. (Sanropei, 1989).

 

1.2.  Rumusan Masalah
Berdasarkan ruang lingkup permasalahan yang telah diungkapkan di atas, maka rumusan masalah yang dapat penulis kemukakan dalam penelitian ini adalah “Apakah ada hubungan antara sanitasi lingkungan rumah sekitar pantai terhadap kejadian kasus malaria”.




DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Asrul. ( 1990 ). Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan, Jakarta : Mutiara Sumber Widya.
Depkes. RI. ( 1990 ), Pedoman Keguatan Kader, Jakarta
Depkes. RI. ( 2003 ), Pedoman Tata Laksana Kasus Malaria, Gebrak Malaria. Jakarta.
Depkes. RI. (2002), Pedoman Pelaksanaan Pengawasan dan Pengendalian Dampak Sampah (Aspek Kesehatan Lingkungan). Jakarta
Garis Besar Haluan Negara, 1993, Pembangunan Kesehatan, Depkes RI
Kusnindar. (1990). Masalah Malaria dan Pemberantasannya di Indonesia. Cermin Duinia Kedokteran No. 63, : 7 – 12
Retno Widiastuti. (2004). Kajian Lingkungan pada Daerah Endemis Malaria di Indonesia. Alfebata. Bandung
Sanropei, Djasio, dkk. ( 1989 ), Pengawasan Penyehatan Lingkungan Permukiman. Jakarta : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Depkes RI.
Suharmadi. ( 1985 ), Perumahan Sehat. Pusat Pendidika Tenaga Kesehatan Depkes RI, Jakarta.
Suyono. ( 1985 ), Pokok Bahasan Modul Perumahan dan Permukiman Sehat. Jakarta Proyek Pengembangan Tenaga sanitasi Pusat Pusdiknas.

Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 1992. Tentang Kesehatan, Jakarta : Depkes. RI.



DOWNLOAD FILE DI SINI
KHASANAH ILMU
JUJUR - MUDAH - MURAH
http://khasanahilmuu.blogspot.com/2013/08/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About