Rabu, 14 Agustus 2013

PENGARUH STATUS EKONOMI TERHADAP PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT PADA TATANAN RUMAH TANGGA MASYARAKAT DI DAERAH PESISIR PANTAI





JUDUL  :   PENGARUH STATUS EKONOMI TERHADAP PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT PADA TATANAN RUMAH TANGGA MASYARAKAT DI DAERAH PESISIR PANTAI


1.1.  Latar Belakang

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan (Advocacy), Bina suasana (Social support) dan pemberdayaan masyarakat (Empowerment). Sebagai suatu upaya untuk membantu masyarakat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, dalam tatanan rumah tangga, agar dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dalam rangka menjaga memelihara dan meningkatkan kesehatannya. (Dinkes Aceh, 2002:3)  
PHBS yang baik dapat memberikan dampak yang bermakna terhadap kesehatan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam peningkatan derajat kesehatan, status pola gizi dan pemanfaatan sarana kesehatan lingkungan agar tercapai derajat kesehatan yang optimal (Dinkes Aceh, 2002: 3). Masalah kesehatan lingkungan merupakan salah satu dari akibat masih rendahnya tingkat pendidikan penduduk, masih terikat eratnya masyarakat Indonesia dengan adat istiadat kebiasaan, kepercayaan dan lain sebagainya yang tidak sejalan dengan konsep kesehatan (Azwar, 1981: 20).
Menurut pusat promosi kesehatan, PHBS dapat mencegah terjadinya penyakit dan melindungi diri dari ancaman penyakit. Dampak Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang tidak baik dapat menimbulkan suatu penyakit diantaranya adalah mencret, muntaber, desentri, typus, dan DBD (Syafrizal, 2002:30-31).
Standar pelayanan minimal target PHBS rumah tangga nasional tahun 2008 adalah sebesar 51% yang terdiri dari: Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, menimbang bayi dan balita setiap bulan, indikator menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air dan sabun, menggunakan jamban sehat, pemberantasan jentik di rumah, makan sayur dan buah setiap hari, melakukan aktivitas fisik setiap hari, tidak merokok di dalam rumah. Memberi bayi ASI secara eksklusif. Dari data hasil survey PHBS Kota Metro tahun 2007 yaitu, bayi yang belum mendapatkan ASI eksklusif sebesar 40%, yang persalinannya tidak di tolong oleh tenaga kesehatan adalah sebesar 10%, yang masih merokok sebesar 10%, yang masih tidak menggunakan air bersih sebesar 10%, yang jambannya masih belum memenuhi syarat kesehatan sebesar 10% (Dinkes, 2007:9).
Hasil survey PHBS tahun 2008 diketahui program yang ada hubungannya dengan program PHBS di Provinsi Aceh adalah sebagai berikut: yang masih merokok di dalam rumah sebesar 86,5 %, yang tidak melakukan aktivitas fisik sebesar 19, 8% yang tidak makan sayur dan buah sebesar 8,7 % jamban yang belum memenuhi syarat kesehatan sebesar 15, 5%, masih terdapat air yang tidak bersih sebesar 22,2%. (Notoatmodjo, 2007) Walaupun dari data survey telah diketahui ternyata PHBS rumah tangga sudah melebihi target nasional, namun masih ada sebagian PHBS yang belum jalan. Hal ini dapat dilihat dari data tersebut di atas.
Penyebab yang mempengaruhi PHBS adalah faktor perilaku dan non perilaku fisik, sosial ekonomi dan sebagainya, oleh sebab itu penanggulangan masalah kesehatan masyarakat juga dapat ditujukan pada kedua faktor utama tersebut (Notoatmodjo, 2005: 25 – 26) banyak hal yang menjadi penyebab PHBS menurun yaitu selain faktor teknis juga faktor-faktor geografi, ekonomi dan sosial (Depkes RI, 2003:1)
Peningkatan PHBS tersebut dilaksanakan melalui 5 tatanan, diantaranya adalah tatanan rumah tangga. Terdapat 10 indikator PHBS tatanan rumah tangga, yaitu; (1) Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, (2) Bayi diberi ASI ekslusif, (3) Mempunyai jaminan pemeliharaan kesehatan, (4) Ketersediaan air bersih, (5) Ketersediaan jamban sehat, (6) Kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni, (7)  Lantai rumah bukan lantai tanah, (8) Tidak merokok di dalam rumah, (9) Melakukan aktifitas fisik setiap hari,  dan (10) Makan buah dan sayur setiap hari. Keberhasilan program PHBS tatanan rumah tangga, didasarkan kepada 10 indikator yang dibagi menjadi 4 tingkatan atau kategori:  Sehat I, Sehat II, Sehat III, dan Sehat  IV;  dengan target  pemerintah yaitu tercapainya penduduk Indonesia yang ber-PHBS pada tingkat Sehat IV  (Depkes RI, 2006).  
Tingkat keberhasilan PHBS di Indonesia cenderung belum maksimal. Hasil Survei Kesehatan Nasional (2004),  menunjukkan bahwa: (1)  Cakupan penolong persalinan oleh tenaga kesehatan sebesar 64%, dengan target nasional 90%;  (2) Bayi diberi ASI eksklusif 39,5 %, dengan  target nasional 80%; (3) Cakupan JPKM 19%, target nasional 80%; (4)  Jenis sumber air yang paling banyak digunakan adalah air sumur terlindung sebesar 35% dan ketersediaan air bersih 81 %, target nasional 85 %; (5) Rumah tangga yang menggunakan jamban sehat 49%, target nasional 80%; (6) Kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni 35 % dengan target nasional 80 % (7) Lantai rumah bukan lantai tanah 35% target nasional 80%; (8) Hanya 36 % penduduk Indonesia yang tidak merokok dalam rumah; (9) Hanya  18% penduduk  yang melakukan aktifitas fisik; (10)  Hanya 16 % yang makan buah dan sayur setiap hari. 
Berdasarkan pendapat para ahli (seperti Soeti, 2001; Soenati, 2001;) dapat dikatakan bahwa promosi kesehatan sebagai kombinasi terencana dari mekanisme pendidikan, politik, lingkungan, peraturan, maupun mekanisme organisasi yang mendukung tindakan dan kondisi kehidupan yang kondusif untuk kesehatan individu, kelompok dan masyarakat.  Promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang didukung oleh sumberdaya masyarakat, sesuai sosial budaya setempat, dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. 
Berdasarkan pendapat Widayastuti (2007), dapat disimpulkan bahwa promosi kesehatan merupakan determinan penting dari perilaku hidup sehat masyarakat.  Promosi kesehatan mempengaruhi 3  faktor penyebab mengapa seseorang melakukan perilaku tertentu, yaitu: (1) Faktor pemungkin atau    predisposing factor,   sebagai factor  pemicu perilaku yang memungkinkan suatu motivasi atau aspirasi terlaksana; (2)  Faktor pemudah atau  reinforcing factor, adalah faktor dasar atau motivasi bagi.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Pengaruh Status Ekonomi Terhadap Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Pada Tatanan Rumah Tangga Masyarakat Di Daerah Pesisir Pantai Aceh”

1.2.  Rumusan Masalah
                          Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan permasalahan penelitian, yaitu: bagaimana Pengaruh Status Ekonomi Masyarakat Terhadap Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Pada Tatanan Rumah Tangga Di Daerah Pesisir Pantai Aceh.



DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Azrul. Tubuh Sehat Ideal Dari Segi Kesehatan. Jakarta: Departemen  Kesehatan RI. 1981.  p.1.

Departemen Kesehatan RI. Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. 2003. P33-5.

Departemen Kesehatan RI. Prilaku Hidup Sehatn dan Bersih. Banda Aceh: Departemen Kesehatan Aceh. 2002. P77-45

Notoatmodjo, Soekidjo, prof. DR. S.KM. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku.  Jakarta: Rineka Cipta. 2007. P133-8.

Soejoeti, Sunanti. Konsep Sehat, Sakit dan Penyakit dalam Konteks Sosial  Budaya. Jakarta: Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. 2000. p.2.

Syafrizal: Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Faktor-Faktor Yang  Berhubungan Dengan PHBS Pada Keluarga di Kabupaten Aceh Barat Propinsi Aceh. Tesis FKM UI, Depok, 2002.

Widyastuti, Palupi S. KM. Kesehatan Masyarakat, Suatu Pengantar. 4th ed. Jakarta: EGC. 2007. p.3-8.



DOWNLOAD FILE DI SINI
KHASANAH ILMU
JUJUR - MUDAH - MURAH
http://khasanahilmuu.blogspot.com/2013/08/


0 komentar:

Poskan Komentar