Pages

Senin, 11 Februari 2013

LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN INSTRUMEN NONTES

LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN INSTRUMEN NONTES


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.   Latar Belakang
Mutu pendidikan dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya siswa, pengelola sekolah, lingkungan,kualitas pengajaran, kurikulum dan sebagainya (Suhartoyo, 2005). Usaha peningkatan pendidikan bisa ditempuh dengan peningkatan kualitas pembelajaran dan sistem evaluasi yang baik. Keduanya saling berkaitan sistem pembelajaran yang baik akan menghasilkan kualitas pendidikan yang baik, selanjutnya sistem penilaian yang baik akan mendorong guru untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi siswa untuk belajar yang lebih baik (Mardapi, 2003).
Sehubungan dengan itu, maka di dalam pembelajaran dibutuhkan guru yang tidak hanya mengajar dengan baik, namun mampu melakukan evaluasi dengan baik. Kegiatan evaluasi sebagai bagian dari program pembelajaran perlu lebih dioptimalkan. Evaluasi tidak hanya bertumpu pada penilaian hasil belajar, namun perlu penilaian terhadap input, output dan kualitas proses pembelajaran itu sendiri.
Penilaian hasil belajar tidak hanya dilakukan dengan cara tes, tetapi dapat juga dilakukan dengan teknik non-tes seperti pedoman observasi, skala sikap, daftar cek, dan catatan anecdotal. Pedoman onservasi baik digunakan untuk mengukur hasil belajar yang menutamakan penampilan atau keterampilan dalam pendidikan professional. Karena pada umumnya hasil belajar yang bersifat keterampilan sukar diukur dengan tes, maka digunakan teknik pengukuran lain yang dapat memberikan hasil yang lebih akurat.
Dalam makalah ini, akan disajikan beberapa hal tentang teknik evaluasi yang dapat digunakan dalam penilaian terhadap anak didik, baik itu tentang kemampuan belajar, sikap, keterampilan, sifat, bakat, minat dan kepribadian. Adapun teknik yang akan dijelaskan dalam makalah ini adalah teknik non-tes. Salah satu teknik yang sangat membantu dalam penilaian terhadap hal-hal yang bersangkutan dengan siswa.

1.2.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka  yang menjadi rumusan masalah  adalah       
1.      Apa saja jenis-jenis instrument teknik non tes itu?
2.      Bagaimana cara pengembangan instrumen teknik non tes?

1.3.  Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah yang diajukan, maka penulisan makalah ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1.      Menyajikan jenis-jenis teknik non tes
2.      Menyusun cara pengembangan instrumen teknik nontes




BAB II
PEMBAHASAN

2.1.       Pengertian Teknik Non-tes
Alat penilaian dapat berarti teknik evaluasi. Teknik evaluasi non-tes berarti melaksanakan penilaian dengan tidak mengunakan tes. Teknik penilaian ini umumnya untuk menilai kepribadian anak secara menyeluruh meliputi sikap, tingkah laku, sifat, sikap sosial, ucapan, riwayat hidup dan lain-lain. Yang berhubungan dengan kegiatan belajar dalam pendidikan, baik secara individu maupun secara kelompok.
Alat penilaian yang non-test, yang biasanya menyertai atau inheren dalam pelaksanaan proses belajar mengajar sangat banyak macamnya. Di antaranya bisa disebutkan adalah observasi (baik dengan cara langsung, tak langsung, maupun partisipasi), wawancara (terstruktur atau bebas), angket (tertutup atau terbuka), sosiometri, checklist, concept map, portfolio, student journal, pertanyaan-pertanyaan, dan sebagainya.
Keberhasilan siswa dalam proses belajar-mengajar tidak dapat diukur dengan alat tes. Sebab masih banyak aspek-aspek kemampuan siswa yang sulit diukur secara kuantitatif dan mencakup objektifitas misalnya aspek efektif psikomotor.

2.2.  Penggolongan Teknik Non-tes
  1. Observasi
Observasi merupakan suatu pengamatan langsung terhadap siswa dengan memperhatikan tingkah lakuya. Secara umum observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan.
Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrumen. Format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi.
Dari penelitian berpengalaman diperoleh suatu petunjuk bahwa mencatat data observasi bukanlah sekedar mencatat, tetapi juga mengadakan pertimbangan kemudian mengadakan penilaian ke dalam suatu skala bertingkat. Misalnya kita memperhatikan reaksi penonton televise, bukan hanya mencatat bagaimana reaksi itu, dan berapa kali muncul, tetapi juga menilai reaksi tersebut, sangat, kurang, atau tidak sesuai dengan yang kita kehendaki.
Observasi dapat dilakukan pada berbagi tempat misalnya kelas pada waktu pelajaran, dihalaman sekolah pada waktu bermain, dilapangan pada waktu murid olah raga, upacara dan lain-lain.

  1. Cara dan Tujuan Observasi
Menurut cara dan tujuannya observasi dapat dibedakan menjadi 3 macam:
a)      Observasi partisipatif dan nonpartisipatif
Observasi partisipatif adalah observasi dimana orang yang mengobservasi (observer) ikut ambil bagian alam kegiatan yang dilakukan oleh objek yang diamatinya. Sedangkan observasi nonpartisipatif, observasi tidak mengambil bagian dalam kegiatan yang dilakukan oleh objeknya. Atau evaluator berada “diluar garis” seolah-olah sebagai penonton belaka.
Contoh observasi partisipatif : Misalnya guru mengamati setiap anak. Kalau observasi nonpartisipatif, guru hanya sebagai pengamat, dan tidak ikut bermain.

  1. Observasi sistematis dan observasi nonsitematis
Observasi sistematis adalah observasi yang sebelum dilakukan, observer sudah mengatur sruktur yang berisi kategori atau kriteria, masalah yang akan diamati. Sedangkan observasi nonsistematis yaitu apabila dalam pengamatan tidak terdapat stuktur ketegori yang akan diamati.
Contoh observasi sistematis misalnya guru yang sedang mngamati anak-anak menanam bunga. Disini sebelum guru melaksanakan observasi sudah membuat kategori-kategori yang akan diamati, misalnya tentang: kerajinan, kesiapan, kedisiplinan, ketangkasan, kerjasama dan kebersihan. Kemudian ketegori-kategori itu dicocokkan dengan tingkah laku murid dalam menanam bunga.
Kalau observasi nonsistematis maka guru tidak membuat kategori-kategori diatas, tetapi langsung mengamati anak yang sedang menanam bunga.

  1. Observasi Eksperimental
Observasi eksperimental adalah observasi yang dilakukan secara nonpartisipatif tetapi sistematis. Tujuannya untuk mengetahui atau melihat perubahan, gejala-gejala sebagai akibat dari situasi yang sengaja diadakan.
Sebagai alat evaluasi , observasi digunakan untuk:
  1. Menilai minat, sikap dan nilai yang terkandung dalam diri siswa.
  2. Melihat proses kegiatan yang dilakukan oleh siswa maupun kelompok.
  3. Suatu tes essay / obyektif tidak dapat menunjukan seberapa kemampuan siswa dapat menjelaskan pendapatnya secara lisan, dalam bekerja kelompok dan juga kemampuan siswa dalam mengumpulkan data
  1. Sifat Observasi
Observasi yang baik dan tepat harus memilki sifat-sifat tertentu yaitu:
  1. Hanya dilakukan sesuai dengan tujuan pengajaran
  2. Direncanakan secara sistematis
  3. Hasilnya dicatat dan diolah sesuai dengan tujuan
  4. Dapat diperika validitas, rehabilitas dan ketelitiaanya.
  1. Kelebihan dan Kelemahan Observasi
Observasi sebagai alat penilai non-tes, mempunyai beberapa kelebihan, antara lain:
  1. Observasi dapat memperoleh data sebagai aspek tingkah laku anak.
  2. Dalam observasi memungkinkan pencatatan yang serempak dengan terjadinya suatu gejala atau kejadian yang penting
  3. Observasi dapat dilakukan untuk melengkapi dan mencek data yang diperoleh dari teknik lain, misalnya wawancara atau angket
  4. Observer tidak perlu mengunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan objek yang diamati, kalaupun menggunakan, maka hanya sebentar dan tidak langsung memegang peran.
Selain keuntungan diatas, observer juga mempunyai beberapa kelemahan, antara lain:
  1. Observer tidak dapat mengungkapkan kehidupan pribadi seseorag yang sangat dirahasiakan. Apabila seseorang yang diamati sengaja merahasiakan kehidupannya maka tidak dapat diketahui dengan observasi. Misalnya mengamati anak yang menyayi, dia kelihatan gembira, lincah. Tetapi belum tentu hatinya gembira, dan bahagia. Mungkin sebaliknya, dia sedih dan duka tetapi dirahasiakan.
  2. Apabila si objek yang diobservasikan mengetahui kalau sedang diobservasi maka tidak mustahil tingkah lakunya dibuat-buat, agar observer merasa senang.
  3. Observer banyak tergantung kepada faktor-faktor yang tidak dapat dapat dikontrol sebelumya.

  1. Langkah-langkah menyusun observasi :
  1. Merumuskan tujuan
  2. Merumuskan kegiatan
  3. Menyusun langkah-langkah
  4. Menyusun kisi-kisi
  5. Menyusun panduan observasi
  6. Menyusun alat penilaian





b.      Wawancara (Interview)
Wawancara, suatu cara yang dilakukan secara lisan yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan informsi yang hendak digali. wawancara dibagi dalam 2 kategori, yaitu pertama, wawancara bebas yaitu si penjawab (responden) diperkenankan untuk memberikan jawaban secara bebas sesuai dengan yang ia diketahui tanpa diberikan batasan oleh pewawancara. Kedua adalah wawancara terpimpin dimana pewawancara telah menyusun pertanyaan pertanyaan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menggiring penjawab pada informasi-informasi yang diperlukan saja.
Wawancara adalah suatu teknik penilain yang dilakukan dengan jalan percakapan (dialog) baik secara langsung (face to pace relition) secara langsung apabila wawancara itu dilakukan kepada orang lain misalnya kepada orang tuannya atau kepada temanya. Keberhasilan wawancara sebagai alat penilaian sangat dipengaruhi oleh beberapa hal :
    • Hubungan baik pewawancara dengan anak yang diwawancarai. Dalam hal ini hendaknya pewawancara dapat menyesuikan diri dengan orang yang diwawancarai
    • Keterampilan pewawancara
Keterampilan pewawancara sangat besar pengaruhnya terhadap hasil wawancara yang dilakukan, karena guru perlu melatih diri agar meiliki keterampilan dalam melaksanakan wawancara.
    • Pedoman wawancara
Keberhasilan wawancara juga sangat dipengaruhi oleh pedoman yang dibuat oleh guru sebelum guru melaksanakan wawancara harus membuat pedoman-pedoman secara terperinci, tentang pertanyaan yang akan diajukan.
    1. Langkah-langkah penyusunan wawancara :
  1. Perumusan tujuan
  2. Perumusan kegiatan atau aspek-aspek yang dinilai
  3. Penyusunan kisi-kisi
  4. Penyusunan pedoman wawancara
  5. Lembaran penilaian
    1. Kelebihan dan kelemahan wawancara
Kelebihan wawancara yaitu :
  1. Wawancara dapat memberikan keterangan keadaan pribadi hal ini tergantung pada hubungan baik antara pewawancara dengan objek.
  2. Wawancara dapat dilaksanakan untuk setiap umur dan mudah dalam pelaksaannya
  3. Wawancara dapat dilaksanakan serempak dengan observasi.
  4. Data tentang keadaan individu lebih banyak diperoleh dan lebih tepat dibandingkan dengan observasi dan angket.
  5. Wawancara dapat menimbulkan hubungan yang baik antara si pewawancara dengan objek.
Sedangkan kelemahan wawancara:
  1. Keberhasilan wawancara dapat dipengaruhi oleh kesediaan, kemampuan individu yang diwawancarai.
  2. Kelancaran wawancara dapat dipengaruhi oleh keadaan sekitar pelaksanaan wawancara.
  3. Wawancara menuntut penguasaan bahasa yang baik dan sempurna dari pewawancara.
  4. Adanya pengaruh subjektif dari pewawancara dapat mempengaruhi hasil wawancara 
    1. Jenis-jenis wawancara
Ada dua jenis wawancara yang dapat pergunakan sebagai alat evaluasi, yaitu:
  1. Wawancara terpimpin (Guided Interview) yang juga sering dikenal dengan istilah wawancara berstruktur (Structured Interview) atau wawancara sistematis (Systematic Interview).
  2. Wawancara tidak terpimpin (Un-Guided Interview) yang sering dikenal dengan istilah wawancata sederhana (Simple Interview) atau wawancara tidak sistematis (Non-Systematic Interview), atau wawancara bebas.

c.         Angket (Questionaire)
Pada dasarnya angket adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden). Pada umumnya tujuan penggunaan angket atau kuesioner dalam proses pembelajaran terutama adalah untuk memperoleh data mengenai latar belakang peserta didik sebagai salah satu bahan dalam menganalisis tingkah laku dan proses belajar mereka.
Angket sebagai alat penilaian non-tes dapat dilaksanakan secara langsung maupun secara tidak langsung. Dilaksanakan secara langsung apabila angket itu diberikan kepada anak yang dinilai atau dimintai keterangan sedangkan dilaksanakan secara tidak langsung apabila nagket itu diberikan kepada orang untuk dimintai keterangan tentang keadaan orang lain. Misalnya diberikan kepada orangtuanya, atau diberikan kepada temannya.
Angket adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam beberapa kategori. Pembagiannya dibedakan menjadi dua, yaitu pembagian kuesioner berdasarkan siapa yang menjawab, dan pembagian berdasarkan cara menjawab.
1.                  Jenis-jenis angket
Ditinjau dari segi siapa yang menjawab, kuesioner/angket dibagi menjadi dua yaitu:
  1. Kuesioner langsung
Suatu kuesioner dikatakan sebagai kuesioner langsung adalah apabila kuesioner tersebut dikirimkan dan diisi langsung oleh orang yang akan dimintai jawabann tentang dirinya
  1. Kuesioner tidak langsung
Kuesioner tidak langsung adalah kuesioner yang dikirimkan dan diisi bukan oleh orang yang diminta keterangannya. Kuesioner jenis ini biasanya digunakan untuk mencari data tentang bawahan, anak, saudara, tetangga, dan sebagainya.
  1. Ditinjau dari segi cara menjawab atau strukturnya, kuesioner dibagi menjadi dua yaitu:
1.    Kuesioner tertutup (berstruktur)
Kuesioner tertutup adalah kuesioner yang disusun dengan menyediakan pilihan jawaban lengkap sehingga pengisi hanya tinggal memberi tanda centang pada jawaban yang dipilih.
2.        Kuesioner terbuka (tidak berstruktur)
Kuesioner terbuka adalahKuesioner yang disusun sedemikian rupa sehingga para pengisi bebas mengemukakan pendapatnya. Kuesioner terbuka disusunapabila macam jawaban pengisi belum terperinci dengan jelas sehingga jawabannya akan beraneka ragam. Dengan kata lain, kuesioner ini adalah angket/kuesioner yang membutuhkan jawaban uraian panjang, dari anak, dan bebas. Yang biasanya anak dituntut untuk memberi penjelasan-penjelasan, alasan-alasan terbuka.
2.    Kelebihan dan kelemahan angket
Angket sebagai alat penilaian terhadap sikap tingkah laku, bakat, kemampuan, minat anak, mempunyai beberapa kelebihan dan kelemahan.
Kelebihan angket antara lain:
  1. Dengan angket kita dapat memperoleh data dari sejumlah anak yang banyak yang hanya membutuhkan waktu yang sigkat.
  2. Setiap anak dapat memperoleh sejumlah pertanyaan yang sama
  3. Dengan angket anak pengaruh subjektif dari guru dapat dihindarkan
 Sedangkan kelemahan angket, antara lain:
  1. Pertanyaan yang diberikan melalui angket adalah terbatas, sehingga apabila ada hal-hal yang kurang jelas maka sulit untuk diterangkan kembali
  2. Kadang-kadang pertanyaan yang diberikan tidak dijawab oleh semua anak, atau mungkin dijawab tetapi tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Karena anak merasa bebas menjawab dan tidak diawasi secara mendetail.
  3. Ada kemungkinan angket yang diberikan tidak dapat dikumpulkan semua, sebab banyak anak yang merasa kurang perlu hasil dari angket yang diterima, sehingga tidak memberikan kembali angketnya
    1. Langkah-langkah menyusun angket :
  1. Merumuskan tujuan
  2. Merumuskan kegiatan
  3. Menyusun langkah-langkah
  4. Menyusun kisi-kisi
  5. Menyusun panduan angket
  6. Menyusun alat penilaian

d.        Pemeriksaan Dokumen (Ducumentary Analisis)
Evaluasi mengenai kemajuan, perkembangan atau keberhasilan belajar peserta didik tanpa menguji (teknik non-tes) juga dapat dilengkapi atau diperkaya dengan cara melakukan pemerikasaan terhadap dokumen-dokumen; misalnya dokumen yang memuat infomasi mengenai riwayat hidup (auto biography).
Riwayat hidup adalah gambaran tentang keadaan seseorang selama dalam masa kehidupannya. Dengan mempelajari riwayat hidup, maka subjek evaluasi akan dapat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian kebiasaan atau sikap dari obyek yang dinilai.


  1. Prinsip dasar penilaian berbasis portofolio
  1. Prinsip penilaian proses dan akhir
Penilaian berbasis portofolio menerapkan prinsip penilaian proses dan hasil sekaligus. Proses belajar yang dinilai misalnya diperoleh dari catatan perilaku harian atau catatan anekdot mengenai sikap-sikap siswa dalam belajar, antusias dalam mengikuti pelajaran, dan sebagainya.
  1. Prinsip penilaian berkala dan berkelanjutan
Penilaian berbasis portofolio menerapkan prinsip penilaian berkala. Misalnya dalam menilai hasil, secara berkala setiap selesai satu satuan pelajaran ataupun satu kompetensi dasar, diadakan ulangan atau tes.
Penilaian berbasis portofolio menerapkan prinsip penilaian berkelanjutan. Hal ini terlihat dari adanya kontinuitas penilaian, baik penilaian hasil maupun proses tidak ada yang boleh tertutup.
  1. Prinsip penilaian yang adil
Penilaian yang baik hendaknya memerhatikan kondisi dan perbedaan-perbedaan individual, karena kedua hal tersebut berkaitan dengan masalah keadilan.
  1. Jenis-jenis portofolio
  1. Portofolio untuk beberapa atau semua pelajaran
Jenis ini menggambarkan profil kemampuan siswa yang memuat berbagai hasil karya siswa siswa dari berbagai mata pelajaran. Jenis ini dapat dibuat dengan bimbingan wali kelas atau guru di kelas.
  1. Portofolio untuk satu mata pelajaran
Isi portofolio terdiri dari hasil karya siswa yang menggambarkan ketercapaian kompetensi dasar dari mata pelajaran tertentu. Hasil pengukuran portofolio dijadikan dasar untuk menentukan apakah siswa terseburt masuk program akselerasi, pengayaan, atau remidiasi.
  1. Kelebihan dan kekurangan portofolio
  1. Kelebihan
  1. Perubahan paradigma penilaian
  2. Akuntabilitas (dapat dipertanggungjawabkan)
  3. Keterlibatan orang tua
  4. Penilaian diri sendiri
  5. Penilaian yang fleksibel
  1. Kekurangan
  1. Membutuhkan waktu yang relative lama
  2. Reliabilitas rendah
  3. Guru berorientasi pada pencapaian hasil akhir
  4. Belum tersedianya criteria penilaian yang baku
  5. Memerlukan tempat penyimpanan yang memadai

2.3.    Langkah-Langkah Dalam Pengembangan Instrumen Non Tes
Menurut Hadjar, dalam suatu penelitian tertentu, peneliti harus mengikuti langkah-langkah pengembangan instrumen, yaitu: 1). Mendefinisikan variabel; 2). Menjabarkan variabel ke dalam indikator yang lebih rinci; 3). Menyusun butir-butir; 4). Melakukan uji coba; 5). Menganalisis kesahihan (validity) dan keterandalan (reliability).
            Suryabrata berpendapat bahwa langkah-langkah pengembangan alat ukur khususnya atribut non-kognitif adalah: 1). Pengembangan spesifikasi alat ukur; 2). Penulisan pernyataan atau pertanyaan; 3). Penelaahan pernyataan atau pertanyaan; 4). Perakitan instrumen (untuk keperluan uji-coba); 5). Uji-coba; 6). Analisis hasil uji-coba; 7). Seleksi dan perakitan instrumen; 8). Administrasi instrumen; 9). Penyusunan skala dan norma.[7]
Secara lebih rinci, Djaali dan Muljono menjelaskan langkah-langkah penyusunan dan pengembangan instrumen yaitu:
1)      Sintesa teori-teori yang sesuai dengan konsep variabel yang akan diukur dan buat konstruk variable
2)      Kembangkan dimensi dan indikator variabel sesuai dengan rumusan konstruk variable
3)      Buat kisi-kisi instrumen dalam bentuk tabel spesifikasi yang memuat dimensi, indikator, nomor butir dan jumlah butir untuk setiap dimensi dan indicator
4)      Tetapkan besaran atau parameter yang bergerak dalam suatu rentangan kontinum dari suatu kutub ke kutub lain yang berlawanan




BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Teknik evaluasi non-tes berarti melaksanakan penilaian dengan tidak mengunakan tes. Teknik evaluasi ini umumnya untuk menilai keperibadian anak secara  menyeluruh meliputi sikap, tingkah laku, sifat, sikap social, ucapan, riwayat hidup dan lain-lain yang berhubungan dengan kegiatan belajar dalam pendidkan baik individual maupun secara kelompok.
  Teknik non-tes terdiri atas:
  1. Observasi
  2. Wawancara (Interview)
  3. Angket (Questionaire)
  4. Pemeriksaan Dokumen (Ducumentary Analisis)
  5.  Sosiometri
  6. Rating scale atau skala bertingkat
  7. Daftar cocok
  8. Riwayat hidup
  9. Bagan partisipasi
  10. Penilaian Berbasis Portofolio




DAFTAR PUSTAKA

Widoyoko, S. Eko Putro. 2009. Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Arikunto, Suharsimi. 1987. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penilaian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Pedoman Penilaian dengan Portofolio. DEPDIKNAS. DIRJEN Pendidikan Dasar dan Menengah. 2004.





DOWNLOAD FILE DI SINI
KHASANAH ILMU
JUJUR - MUDAH - MURAH
http://khasanahilmuu.blogspot.com/2013/08/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About