Kamis, 15 Agustus 2013

Makalah - Ekologi Pertanian




EKOLOGI PERTANIAN

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Biologi lingkungan atau yang biasa dikenal dengan ekologi adalah bagian dari ilmu pengetahuan yang mempunyai hubungan erat dengan lingkungan. Ekologi berasal dari kata oikos yang berarti rumah tangga dan logos yang mempunyai arti ilmu pengetahuan. Jadi, ekologi dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan keadaan lingkungannya yang bersifat dinamis. Hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya sangat terbatas terhadap lingkungan yang bersangkutan, hubungan inilah yang disebut dengan keterbatasan ekologi. Dalam keterbatasan ekologi terjadi degradasi ekosistem yang disebabkan oleh dua hal yaitu peristiwa alami dan kegiatan manusia. Secara alami merupakan peristiwa yang terjadi bukan karena disebabkan oleh perilaku manusia. Sedangkan yang disebabkan oleh kegitan manusia yaitu degradasi ekosistem yang dapat terjadi diberbagai bidang meliputi bidang pertanian, pertambangan, kehutanan, konstruksi jalan raya, pengembangan sumber daya air dan adanya urbanisasi.
Indonesia mempunyai hutan tropis dunia sebesar 10 persen. Sekitar 12% keadaan hutan di Indonesia yang merupakan bagian dari jumlah binatang yang tergolong jenis mamalia, 16% persen merupakan bagian dari spesies amphibi dan binatang sejenis reptil dan 25% dari bagian spesies sejenis burung dan sekitar 1.519 merupakan bagian dari spesies burung. Sisanya merupakan endemik yang hanya dapat ditemui didaerah tersebut.
Tanaman merupakan makhluk hidup yang mempunyai akar, batang dan daun yang berperan sebagai produsen bagi makhluk hidup lainnya.Dalam mineral dari dalam tanah, karbon dioksida dari udara dan bantuan cahaya matahari. Proses inilah yang dinamakan proses fotosintesis.Hasil fotosintesis ini tidak hanya berguna bagi tanaman, tetapi juga bagi hewan dan manusia. Seperti yang dijelaskan di atas, proses fotosintesis membutuhkan energi matahari karena matahari sebagai komponen utama dalam penyediaan energi selama proses berlangsung.

B.     Rumusan Masalah
1.      Pengertian ekolo
2.      Hubungan ekologi tanaman dengan ilmu lain
3.      Tujuan dan Perkembangan Ekologi Tanaman
4.      Manfaat Ekologi Tanaman
5.      Keberlanjutan Ekologi
C.    Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu untuk mengetahui ekologi pertanian secara umum. yaitu sebagai bahan pelajaran bagi saya sebagai mahasiswa yang memprogramkan mata kulia Ekologi Pertanian dan menjadi bahan pelajaran dan bacaan bagi para pembaca.



BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian Ekologi
Batasan pengertian ekologi tanaman cukup luas, namun dari dasar katanya mengandung pengertian eko dan logi, dimana ekologi dapat ditelusuri dari asal katanya, yakni dari kata “Oikos” artinya “lingkungan” dan “logos” artinya “ilmu”. Dengan demikian Ekologi Tanaman adalah salah satu cabang ilmu yang mempelajari tanaman di rumahnya atau berkaitan dengan gejala hidup tumbuhan dalam lingkungan dimana dia hidup termasuk di dalamnya interaksi antar tanaman dengan lingkungannya, atau dapat didefinisikan pula bahwa ekologi tanaman adalah sebagai ilmu (logos) yang mempelajari hubungan timbal balik antara tanaman dan lingkungan (oikos) atau lebih tepatnya adalah ilmu yang mempelajari pengaruh lingkungan terhadap tanaman yang telah dibudidayakan dalam segala aspeknya.
Ekologi tanaman adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara tanaman dengan lingkungannya. Tanaman membutuhkan sumberdaya kehidupan dari lingkungannya, dan mempengaruhi lingkungan begitu juga sebaliknya lingkungan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Ekologi dibagi atas dua bagian yaitu Sinekologi dan Autekologi.
B.      Penerapan Ekologi dalam Bidang Pertanian
Pertanian organik yang semakin berkembang belakangan ini menunjukkan adanya kesadaran petani dan berbagai pihak yang bergelut dalam sektor pertanian akan pentingnya kesehatan dan keberlanjutan lingkungan. Revolusi hijau dengan input bahan kimia memberi bukti bahwa lingkungan pertanian menjadi hancur dan tidak lestari. Pertanian organik kemudian dipercaya menjadi salah satu solusi alternatifnya.
Pengembangan pertanian organik secara teknis harus disesuaikan dengan prinsip dasar lokalitas. Artinya pengembangan pertanian organik harus disesuaikan dengan daya adaptasi tumbuh tanaman/binatang terhadap kondisi lahan, pengetahuan lokal teknis perawatannya, sumber daya pendukung, manfaat sosial tanaman/ binatang bagi komunitas.
Pertanian organik memandang alam secara menyeluruh, komponennya saling bergantung dan menghidupi, dan manusia adalah bagian di dalamnya. Prinsip ekologi dalam pertanian organik didasarkan pada hubungan antara organisme dengan alam sekitarnya dan antarorganisme itu sendiri secara seimbang. Pola hubungan antara organisme dan alamnya dipandang sebagai satu – kesatuan yang tidak terpisahkan, sekaligus sebagai pedoman atau hukum dasar dalam pengelolaan alam, termasuk pertanian.
Dalam pelaksanaannya, sistem pertanian organik sangat memperhatikan kondisi lingkungan dengan mengembangkan metode budi daya dan pengolahan berwawasan lingkungan yang berkelanjutan. Sistem pertanian organik diterapkan berdasarkan atas interaksi tanah, tanaman, hewan, manusia, mikroorganisme, ekosistem, dan lingkungan dengan memperhatikan keseimbangan dan keanekaragaman hayati. Sistem ini secara langsung diarahkan pada usaha meningkatkan proses daur ulang alami daripada usaha merusak ekosistem pertanian (agroekosistem).
Pertanian organik banyak memberikan kontribusi pada perlindungan lingkungan dan masa depan kehidupan manusia. Pertanian organik juga menjamin keberlanjutan bagi agroekosistem dan kehidupan petani sebagai pelaku pertanian. Sumber daya lokal dipergunakan sedemikian rupa sehingga unsur hara, bimassa, dan energi bisa ditekan serendah mungkin serta mampu mencegah pencemaran.
Pemanfaatan bahan-bahan alami lokal di sekitar lokasi pertanian seperti limbah produk pertanian sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik seperti kompos sangat efektif mereduksi penggunaan pupuk kimia sintetis yang jelas-jelas tidak ramah lingkungan. Demikian juga dengan pemanfaatan bahan alami seperti tanaman obat yang ada untuk dibuat racun hama akan mengurangi penggunaan bahan pencemar bahaya yang diakibatkan pestisida, fungisida, dan insektisida kimia.
Penggunaan mikroorganisme pada pembuatan pupuk organik, selain meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, juga akan mengurangi dampak pencemaran air tanah dan lingkungan yang timbul akibat pemakaian pupuk kimia berlebihan. Di samping itu, banyak mikroorganisme di alam yang memiliki kemampuan mereduksi dan mendegradasi bahan-bahan kimia berbahaya yang diakibatkan pencemaran dari bahan racun yang digunakan dalam aktivitas pertanian konvensional seperti racun serangga dan hama.
Dengan kemajuan teknologi, pertanian organik adalah pertanian ramah lingkungan yang murah dan berteknologi sederhana (tepat guna) dan dapat dijangkau semua petani di Indonesia. Serangga hama dan musuh alami merupakan bagian keanekaragaman hayati. Serangga hama memiliki kemampuan berbiak yang tinggi untuk mengimbangi tingkat kematian yang tinggi di alam. Keseimbangan alami antara serangga hama dan musuh alami sering dikacaukan penggunaan insektisida kimia yang hanya satu macam.
Pertanian organik bukan hanya baik bagi kesehatan, tetapi juga bagi lingkungan bumi. Beberapa ahli pertanian Amerika Serikat yakin pertanian organik merupakan cara baru mengurangi gas-gas rumah kaca yang menyumbang pemanasan global. Laurie Drinkwater, ahli manajemen tanah dan ekologi Rodale Institute di Kutztown, Pennsylvania, AS bersama koleganya membandingkan pertanian organik dengan metode sebelumnya yang menggunakan pupuk kimia selama 15 tahun. Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature (Desember 1998) jika pupuk organik digunakan dalam kawasan pertanian kedelai utama di AS, setiap tahun, karbon dioksida di atmosfer dapat berkurang 1-2%.
Drinkwater mengatakan, pengurangan ini merupakan kontribusi yang sangat berarti. Selain itu negara-negara industri sepakat dalam pertemuan Bumi di Kyoto Jepang untuk mengurangi emisi karbondioksida sampai 5,2% dari tahun 1990 hingga tahun 2008-2012. Dalam penelitian ini juga ditemukan, pertanian organik menggunakan energi 50% lebih kecil dibandingkan dengan metode pertanian konvensional.
Demikianlah, fakta mengungkapkan bahwa sistem pertanian organik adalah pertanian yang ramah lingkungan. Artinya, pelaku sistem pertanian organik telah berusaha tidak merusak dan menganggu keberlanjutan komponen-komponen lingkungan yang terdiri atas tanah, air, udara, tanaman, binatang, mikroorganisme, dan tentunya manusia.

C.    Hubungan Ekologi Pertanian dengan Ilmu Lain
Sebagian besar cabang ilmu yang terdapat pada budidaya pertanian berhubungan erat dengan ilmu lingkungan, fisiologi tanaman dan melihat cakupan yang luas dari bidang ilmu ekologi tanaman, maka ekologi tanaman merupakan ilmu yang memiliki hubungan yang erat dengan bidang ilmu lainnya atau ilmu yang tidak berdiri sendiri, bukan hanya berhubungan dengan yang terdapat dalam lingkup budidaya pertanian dalam arti luas tetapi juga dalam bidang sosial kemasyarakatan. 
Dalam kaitannya dengan bidang agronomi, Sugito (1994) menjelaskan bahwa ekologi tanaman dapat dipandang sebagai jembatan penghubung antara kelompok ilmu lingkungan di satu pihak dengan kelompok ilmu tanaman di pihak lain seperti gambar berikut :

Biokimia
 

Klimatologi
 
           

Ilmu Tanah
 

Ekologi Tanaman
 

Fisiologi
 
 

                               
 


I
lmu Lingkungan                                                                                  Ilmu Tanaman

Hubungan Ekologi Tanaman dengan Ilmu Lain (Sumber Sugito, 1994)
Dari diagram tersebut, menunjukkan bahwa cakupan ekologi tanaman sebenarnya sangat luas.  Ekologi tanaman mempelajari bagaimana pengaruh iklim, tanah dan faktor biotik termasuk interaksi antara faktor-faktor tersebut mempengaruhi proses fisiologis tanaman, yang dapat mengakibatkan pertumbuhan dan produksi tanaman terganggu.  Juga mencakup seluruh komponen-komponen lainnya terhadap proses biokimia, fisiologi dan sifat genetik yang terjadi dalam tubuh tanaman tidak lepas dari kajian yang terdapat dalam ekologi tanaman.
Ekologi tanaman dengan demikian merupakan dasar dalam agronomi, karena agronomi itu sendiri mencakup pengelolaan, (nomos) tanaman dan lingkungannya (agros) untuk mendapatkan pertumbuhan dan hasil panen yang sebaik-baiknya sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. Ekologi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ilmu biologi. Oleh karenanya Ilmu Biologi sering disebut dengan biologi lingkungan. Ekologi merupakan bagian kecil dari Biologi. Yang termasuk dalam ruang lingkup biologi ialah organisma, populasi, komunitas, ekosistem, dan biosfir. Jika kita perhatikan bahasan dalam mempelajari ekologi ternyata masing-masing ilmu yang membahas suatu individu/grup tidak terlepas dari membahas masalah ekologi. Dari penjelasan ini dapat dilihat ternyata ekologi merupakan ilmu yang cakupannya amat luas. Bagaimana reaksi dari organisme atau individu atau kelompok individu terhadap lingkungan atau sebaliknya juga dipelajari dalam ekologi. Organisma dalam pengertian biologi ialah makhluk secara individu atau sesuatu kesatuan organ yang mempunyai tanda-tanda dan aktifitas kehidupan. Organisma dalam biologi sering disebut sebagai individu.
Pertumbuhan suatu tanaman dan hasil panen yang diperoleh pada dasarnya merupakan hasil kerja atau pengaruh saling berkaitan antara sifat genetic tanaman dan pengaruh faktor luar dimana tanaman tersebut tumbuh.
Oleh karena itu untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman dan hasil panen yang tinggi, pengetahuan tentang faktor lingkungan tumbuh tanaman ini menjadi sangat penting agar kita dapat mengelola lingkungan tumbuh tersebut sebaik-baiknya, dalam arti cocok bagi pertumbuhan tanaman yang diusahakan. Prinsip kecocokan dan ketidakcocokan (meracuni) bagi tanaman telah diuraikan secara rinci oleh Fitter dan Hay (1994) yang menyimpulkan bahwa kondisi yang baik atau yang cocok bagi tanaman adalah kondisi yang memungkinkan pertumbuhan maksimum bagi kebanyakan species.  Sudah barang tentu bahwa sejumlah tanaman akan memberikan respons yang kontinyu  bagi pembudidayaannya dalam keadaan tingkat pemberian unsur hara yang tinggi, yang tidak akan berguna untuk waktu lama atau bahkan merugikan terhadap lainnya, tetapi banyak species yang nampaknya beradaptasi terhadap habitat yang paling tidak cocok.
Sesuai dengan Hukum Minimum dari Von Liebig yang menyatakan bahwa “apabila suatu proses dipengaruhi oleh beberapa faktor, maka keberhasilan dari proses tersebut ditentukan oleh salah satu faktor yang dalam keadaan minimum/terbatas”.  Dengan demikian demi keberhasilan suatu proses produksi pertanian, sudah barang tentu harus memperhatikan seluruh faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman, baik faktor internal (sifat genetik) maupun faktor eksternal (lingkungan tumbuh).
D.    Manfaat Ekologi Pertanian
Lingkungan akan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan tanaman dan organisme lain yang hidup di muka bumi. Oleh sebab itu pengetahuan tentang lingkungan tumbuh tanaman sangat dibutuhkan agar budidaya tanaman yang dilakukan dapat menghasilkan produksi yang optimum. Dalam agroekosistem lingkungan tumbuh tanaman menjadi bahan pertimbangan dalam rancang bangun aktivitas budidaya yang akan dilakukan. Desain lanskap dari budidaya tanaman juga sangat tergantung pada lingkungan. Lingkungan akan mempengaruhi jenis tanaman yang sesuai untuk dibudidayakan pada kawasan, penjadwalan dan teknik budidaya yang digunakan. Oleh karenanya pengetahuan tentang lingkungan sangat penting artinya bagi sektor pertanian.

E.     Respon Tanaman Terhadap Radiasi Matahari
Cahaya merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman, dimana dalam unsur cahaya mencakup intensitas cahaya (radiasi matahari), kualitas dan lamanya penyinaran.  Cahaya yang dapat terlihat (visible) merupakan suatu bagian kecil (kira-kira 400 – 700 nm) dari spectrum radiasi matahari penuh dan tanaman juga peka terhadap panjang gelombang lainnya.  Secara fisiologis, cahaya mempunyai pengaruh baik langsung maupun tidak langsung.  Pengaruhnya pada metabolisme secara langsung melalui fotosintesis, serta secara tidak langsung melalui pertumbuhan dan perkembangan tanaman, keduanya sebagai akibat respons metabolisme yang langsung, dan lebih kompleks oleh pengendalian morfogenesis.  Oleh karena itu radiasi matahari merupakan faktor utama di antara faktor iklim yang lain, tidak hanya sebagai sumber energi primer tetapi karena berpengaruh terhadap keadaan faktor-faktor yang lain seperti: suhu, kelembaban dan angin. Respon tanaman terhadap radiasi matahari atau pengaruh radiasi terhadap tanaman pada dasarnya dapat dibagi dalam tiga aspek seperti telah dijelaskan, yakni: (1). Intensitas; (2). Kualitas; dan (3). Fotoperiodisitas.

F.     Keberlanjutan Ekologi
Keberlanjutan ekologis adalah upaya mengembangkan agroekosistem agar memiliki kemampuan untuk bertahan dalam kurun waktu yang lama melalui pengelolaan terpadu untuk memelihara dan mendorong peningkatan fungsi sumber daya alam yang ada. Pengembangan sistem juga berorientasi pada keragaman hayati (biodiversity).
Praktik-praktik budidaya tanaman yang menyebabkan dampak negatif pada lingkungan harus di hindari. Penulis menjumpai di lapangan, bahwa petani sering menyemprot pestisida pabrikan walaupun tidak ada hama. Seolah ada ketakutan yang dalam jika tidak disemprot pastilah akan kena serangan hama. Tanaman melon di Kab Sukoharjo Jateng misalnya, sejak menjelang berbunga hingga menjelang panen, dapat di semprot dengan pestisida hingga tiga kali sehari oleh petani.
Saking akrabnya petani dengan pola asal semprot-semprot ini ditunjukkan dengan kebiasaan mereka menyebut pestisida sebagai obat. Padahal pestisida adalah racun (pest=hama sida=racun) bukan obat. Bahkan banyak pula petugas penyuluh yang menyebut pestisida sebagai obat. Padahal sudah banyak ulasan tentang bahaya residu pestisida terhadap petani, lingkungan dan konsumen.
Hal lain, kebiasaan menyemprot pestisida secara over-dosis ini dapat menyebabkan tumbuhnya kekebalan pada hama yang selamat. Sehingga generasi hama berikutnya tidak lagi mempan disemprot dengan dosis yang sama, atau pestisida yang sama. Di lapangan dijumpai kebiasaan petani meng-oplos berbagai merk pestisida untuk mendapatkan hasil yang lebih ampuh (dalam banyak kasus, justeru penyuluh pertanianlah yang mengajarkan petani akan perihal berbahaya ini). Selain berkelanjutan secara ekonomi dan lingkungan, syarat mutlak sistem pertanian berkelanjutan adalah keadilan sosial, dan kesesuaian dengan budaya lokal. Yakni penghargaan martabat dan hak asasi individu serta kelompok untuk mendapat perlakuan adil. Misalnya adanya perlindungan yang lebih tegas atas hak petani dalam penguasaan lahan, benih dan teknologi lokal yang sering “dibajak” oleh kaum pemodal. Sistem yang harus dibangun juga menyediakan fasilitas untuk mengakses informasi, pasar dan sumberdaya yang terkait pertanian. Hal mana harus menjamin “harga keringat petani” untuk mendapat nilai tukar yang layak, untuk kesejahteraan keluarga tani dan keberlanjutan modal usaha tani. Khususnya akses atas lahan harus kembali dievaluasi dalam rangka menegakkan keadilan, dengan tanpa membedakan jenis kelamin, posisi sosial, agama dan etnis. Contoh adanya ketimpangan keadilan adalah (dalam konvensi di Indonesia?) bila si istri melakukan transaksi hak atas tanah, oleh Notaris akan dimintakan surat kuasa dari suaminya. Sementara itu, budaya pertanian lokal sering kali dilecehkan. Misalnya, sistem ladang berpindah orang Dayak sering dituduh merusak lingkungan (yang benar, orang Dayak menggilirkan lahan secara berputar/siklus, bukan berladang berpindah-pindah). Padahal sistem itu justeru melestarikan lingkungan dan sudah teruji berabad-abad. Namun kebiasaan orang Dayak  menggulirkan siklus lahan ini dijadikan kambing hitam atas dosa lingkungan dari jaringan penjarah kayu serta penjarah hutan hak ulayat suku.
G.     Agroekologi (Ekologi Pertanian)
Sistem ekologi terbentuk sebagai hasil dari interaksi timbal balik secara teratur antara mahluk hidup dan lingkungannnya, sehingga terbentuk satu kesatuan yang utuh. Sistem ekologi ini kemudian dikenal dengan ekosistem. Jadi, ekosistem merupakan bentukan dari komponen biotik (hidup) dan abiotik (tidak hidup) dalam satu wilayah tertentu.
Dalam ekologi pertanian interaksi komponen biotik dan abiotik ini di setting sedemikian rupa melalui mekanisme kontrol agar mendukung keberlangsungan sistem budidaya pertanian yang diusahakan. Kegiatan pengolahan tanah, pupuk dan pengendalian hama ditujukan agar interaksi antara komponen penyusun ekosistem kebun/ ladang mendukung pertumbuhan tanaman budidaya.
1) Prinsip Ekologi Pertanian Organik
Berdasarkan konsep ekologi pertanian diatas, maka dapat dipahami bahwa prinsip ekologi sangat bermanfaat sebagai panduan dalam pengembangan pertanian organik.
Prinsip ini mengatakan bahwa proses produksi harus didasarkan pada daur ulang ekologis. Penerapan teknologi berperan penting dalam meningkatkan interaksi antar komponen ekosistem. Namun, teknologi yang diterapkan harus bersifat spesifik lokasi dengan mempertimbangkan kearifan tradisional dari masing-masing lokasi. Berikut ini prinsip ekologi dalam penerapan pertanian organik:
·         Memperbaiki kondisi tanah agar bisa menguntungkan pertumbuhan tanaman. Kegiatan yang paling utama adalah pengelolaan bahan organik untuk meningkatkan kegiatan komponen biotik dalam tanah.
·         Mengoptimalkan ketersediaan serta keseimbangan unsur hara di dalam tanah. Misalnya melalui fiksasi nitrogen, penambahan dan daur pupuk dari luar usaha tani.
·         Mengelola iklim mikro agar kehilangan hasil panen akibat aliran panas, udara dan air dapat dibatasi. Misalnya dengan pengelolaan air dan pencegahan erosi.
·         Kehilangan hasil panen akibat gangguan hama dan penyakit dibatasi dengan upaya preventif melalui perlakuan yang aman.
·         Pemanfaatan sumber kekayaan genetika dalam sistem pertanaman terpadu.
·         Sesuai dengan prinsip ekologi, aliran hara dalam sistem ekologi harus berjalan secara konstan. Oleh karena itu, unsur hara yang hilang atau terangkut bersama hasil panen, erosi, atau perlindian, selama proses budidaya hingga panen harus digantikan.
·         Agar sistem usaha tani tetap produktif dan sehat, maka jumlah hara yang hilang dari dalam tanah, tidak boleh melebihi hara yang ditambahkan atau dengan kata lain harus ada keseimbangan hara di dalam tanah sepanjang waktu.
Prinsip ekologi ini bisa diterapkan dalam berbagai teknologi dan strategi budidaya pertanian. Setiap prinsip tersebut akan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap produktivitas, keamanan, keberlanjutan dan identitas usaha tani.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Ekologi tanaman adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara tanaman dengan lingkungannya. Ekologi tanaman mempelajari bagaimana pengaruh iklim, tanah dan faktor biotik termasuk interaksi antara faktor-faktor tersebut mempengaruhi proses fisiologis tanaman, yang dapat mengakibatkan pertumbuhan dan produksi tanaman terganggu.  Juga mencakup seluruh komponen-komponen lainnya terhadap proses biokimia, fisiologi dan sifat genetik yang terjadi dalam tubuh tanaman tidak lepas dari kajian yang terdapat dalam ekologi tanaman.
Cahaya merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman, Respon tanaman terhadap radiasi matahari atau pengaruh radiasi terhadap tanaman pada dasarnya dapat dibagi dalam tiga aspek seperti telah dijelaskan, yakni: (1). Intensitas; (2). Kualitas; dan (3). Fotoperiodisitas.
  
DAFTAR PUSTAKA
Abidin. 1990. Dasar-Dasar Pengetahuan tentang Zat Pengatur Tumbuh, Angkasa, Jakarta.Campbell, NA. 2002. Biologi jilid II. Jakata : Erlangga.
Blake, F. 1994. Oerganic farming growing. The Crowood Press Ltd. Wiltshire. U.K.
Agustina, L., 2004.Dasar Nutrisi Tanaman, PT Rineka Cipta, Jakarta.

Buckman, H.O dan N.C Brady. 1982. Ilmu Tanah. Terjemahan Soegiman.Bratara Karya Aksara Jakarta.

Fitter AH dan Hay RKM. Fisiologi Lingkungan Tanaman.Gadjah Mada Universiy
Fukuoka, M. 1991. Revolusi Sebatang Jerami: Sebuah Pengantar Menuju Pertanian Alami (Terjemahan S. Hardjosoediro), yayasan Obor Indonesia, Jakarta Press. Yogyakarta
Wurttemberg, HB. 1994. Biology I. Berlin : Cornelson Dpuck
Zamor,O.B. 1995. Contextualizing the Indicators of Sustainable Agriculture. Working Paper on The Sustainable Agriculture Indicator Workshop on May 30, 1995. SEAMO Regional Centre for Graduade Study and Research in Agriculture



DOWNLOAD FILE DI SINI
KHASANAH ILMU
JUJUR - MUDAH - MURAH
http://khasanahilmuu.blogspot.com/2013/08/


0 komentar:

Poskan Komentar