Pages

Minggu, 20 Januari 2013

Makalah - Struktur Kurikulum di MIN




Struktur kurikulum khususnya yang ada di MIN


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Di dalam sesuatu aktiviti pengajaran dan pembelajaran , terdapat  beberapa  soalan yang berkaitan sering ditimbulkan . yang pertama , “ siapa mengajar ?”. Memangnya , yang mengajar ialah guru . Yang kedua ,” mengajar siapa ?”. Jawapan untuk soalan ini memangnya ialah murid . Yang ketiga , “ bagaimana mengajar ?”. Soalan ini melibatkan kaedah dan teknik mengajar . Soalan ini adalah berkaitan dengan  kurikulum dan bahan bantuan pengajaran yang akan dibincangkan selanjutnya .
Kurikulum dan bahan bantuan pengajaran , dikenali pula sebagai isi kandungan pendidikan atau pengajaran dan pembelajaran , merupakan  hasilan  kebudayaan  intelek , dan pengalaman manusia berlandaskan teori epistemology  yang dikemukakan dari semasa ke semasa , dan melalui pengajaran guru , mengisi jiwa kognitif kanak-kanak dan remaja , agar membolehkan pertumbuhan dan perkembangan mereka secara licin dan tanpa gangguan .
Mengikut Kamus Dwibahasa  (1992) , perkataan  “kurikulum” diertikan sebagai bidang pelajaran di sekolah .
Jika di tinjau dari sejarah , perkataan kurikulum berasal dari perkataan latin “curriculum” yang bermaksud ruang tempat dimana pembelajaran berlaku . Perkataan ini telah digunakan sejak zaman Plato , kira-kira tahun  400 SM  . pada masa itu , kanak-kanak  Yunani  di Bandar Athens telah mengikuti  satu kurikulum pendidikan . Mengikut rekod  sejarah , pada zaman itu , kanak-kanak yunani belajar membaca , menulis da mengira , muzik dan jimnastik mulai umur 7 tahun . Apabila sampai umur  baligh hingga 17 tahun , mereka dikehendaki  belajar sastera , nahu , retorika , matematik , geografi , kewarganegaraan dan cara bermain alat muzik . Bagaimanapun , pada zaman keemasan yunani tersebut , peluang pendidikan terlalu terhad . Hanya kanak-kanak lelaki , khususnya daripada golongan atasan sahaja yang berpeluang belajar di sekolah . Malah , kurikulum yang digubal pun tidak begitu sistematik dan canggih seperti masa sekarang .

1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang didapatkan dari latar belakang masalah diatas adalah Bagaimana sebenarnya Struktur kurikulum khususnya yang ada di MIN ?

1.3. Manfaat Penulisan Makalah
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah untuk kita mengetahui apa itu struktur kurikulum yang khususnya ada di MIN serta kekurangnnya agar dapat kita ambil kebijaka perubahan kurikulum yang ada sekarang ini.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1.   Konsep Kurikulum
A.        Pengertian
Dalam bahasa l;atin kurikulum berarti”lapangan pertandingan”(race course)yaitu arena tempat peserta didik berlari untuk mencapai finish, Baru pada tahun 1955istilah kurikulum dipakai dalam bidamg pendidkan. Bila ditelusuri ternyata kurikulum mempunyia berbagai macam arti,yaitu:
1.         Kurikulum diartikan sebagai rencana pelajaran
2.         Pengalaman belajaryang diperoleh murid dari sekolah
3.         Rencana belajar murid
Menurut UU No.2 tahun 1989 kurikulum yaitu seperangkat rencana dan peraturan, mengenai isi dan bahan pelajaran, sertacara yang digunknnya dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. Bayak pendapat mengenai arti kurikulum, Namun inti kurikulum sebenarny6a adalah pengalaman belajar yang banyak kaitannya dengan melakukan brrbagai kegiatan, interaksi sosial, di lingkungan sekolah, proses kerja sama dengan kelompok, bahkan interaksi denagn lingkungan fisik seperti gedung sekolah dan ruang sekolah. Dengan demikian pengalaman itu bukan sekedar mempelajari mata pelajaran,tetapi yang terpenting adalah pengalaman kehidupan


B.        Kurikulum dan Pengajaran
Pengertian kurikulum yang sangat luas pada akhirnya dapat membingungkan para guru dalam mengembangkan kurikulum sehingga akan menyulitkan dalam perencanaan pengajarannya.
Menurut Ralph.W.Tyler, ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab dalam proses pengembangan kurukulum dan pengajaran yaitu:
1.      Tujuan apa yang hendak di capai?
2.      pengalaman belajar apa yang perlu di siapkan untuk mencapai tujuan?
3.      bagaimana pengalaman belajar itu di organisasikan secara efektif?
4.      bagaimana menentukan keberhasilan pencapaian tujuan?
Jika kita mengikuti pandangan Tyler, maka pengajaran tidak terbatas hanya pada proses pengajaranterhadap satu bahan tertentu saja, melainkan dapat pula diterapkan dalam pengajaran untuk satu bidang studi / pengajaran di sekolah.
Demikian pula kurikulum dapat dikembangkan untuk kurikulum suatu sekolah bidang studi atupun kurikulum untuk suatu bahan pelajaran tertentu.

C.        Komponen-Komponen kurikulum
1.      Tujuan, Yaitu arah/sasaran yang hendak dituju oleh proses penyelenggaran pendidikan
2.      Isi Kurikulum, Yaitu pengalaman belajar yang di peroleh murid di sekolah.pengalaman-pengalaman ini di rancang dan di organisasikan sedemikian rupa sehingga apa yang diperoleh murid sesuai denagn tujuan
3.      Metode proses belajar mengajar yaitu cara muri memperolehpengalaman belajaruntuk mencapai tujuan
4.      Evaluasi yaitu cara untuk mengetahui apakah sasaran yang ingin di tuju dapat tercapai atau tidak.

2.         Fungsi dan Cara Mengembangkan Kurikulum
Fungsi kurikulum ialah sebagai pedoman bagi guru dalam nelaksanakan tugasnya. Selain itu kurikulum berfungsi sebagai:
v  Preventif yaitu agar guru terhindar dari melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang ditetapkan kurikulum
v  Korektif yaitu sebagai rambu-rambu yang menjadi pedoman dalam membetulkan pelaksanaan pendidikan yang menyimpng dari yang telah digariskan dalam kurikulum
v  Konstruktif yaitu memberikan arah yang benar bagi pelaksanaan dan mengembangkan pelaksanaannya asalkan arah pngembangannya mengacu pada kurikulum yang berlaku

Setelah itu kita perlu mengetahui langkah-langkah pengembangan kurikulum,yaitu sebagai berikut:
1.      Menentukan tujuan, Rumusan tujuan di buat berdasarkan analisis terhadap berbagai tuntutan kebutuhan dan harapan
2.      Menentukan isi, merupakan materi yang akan di berikn kepada murid selama mengikuti proses pendidikan belajar mengajar
3.      Merumuskan kegiatan belajar mengajar, Hal ini mencakuppenentuan metode dan keseluruhan proses belajar mengajar yang diperlukan untuk mencapai tujuan
4.      Mengadakan evaluasi

D. Landasan Dan Tingkatan Dalam Pengembangan Kurikulum
1. Landasan
Pada umumnya dalam membina kurikulum kita dapat berpegang pada asas-asas berikut:
a)      Asas filosofis
Landasan filosifis memberikan arah pada semua keputusan dan tindakan manusia, karena filsafat merupakan pandangan hidup, orang, masyarakat, dan bangsa.
Dalam kaitannya dengan pendidikan filsafat memberikan arah pendidikan seperti hakikat pendidikan, tujuannya, dan bagaiman cara mencapai tujuan. Oleh karena itu,wajar apabila kurikulum senantiasa bertalian erat dengan filsafat pendidikan, karen afilsafat mementukan tujuan yang hendak dicapai dengan alatyang di sebut kurikulum.
b)     Asas psikologis
Asas ini berkenaan dengan perilaku manusia. Landasan psikologis berkaitan dengan cara peserta didik belajar, dan faktor apa yang dapat menghambat kemauan belajar mereka selain itu psikologis memberikan landasan berpikir tentang hakikat proses belajar mengajar dan tingkat-ingkat perkembanganpeserta didik. Kurikulum pada dasarnya disusun agar peerta diik dapat tumbuh dan berkembang dengan baik ini berarti bahwa kurikulum dan pengajaran yang dilaksanakan dengan mempertimbangkan peserta didik sebagai peserta utama dlm proses belajar mengajar akan lebih meningkatkankeberhasilan kurikulum, daripada kurikulum yang mengabaikan faktor psiklogis peserta didik.

c)      Asas sosiologis
Asas ini berkenaan dengan penyampaian kebudayaan, proses sosialisasi individu dan rekontruksi masyrakat, Landasan sosial budaya ternyata bukan hanya semata-mata digunaka dalam mengembangkan kurikulum pada tingkat nasional, melainkan juga bagi guru dalam pembinaan kurikulum tingakt sekolah atau bahka tingkat pengajaran

d)     Asas Organisatoris
Asas ini berkenaan dengan organisasi kurikulum.Dilihat dari organisasinya ada tiga tipe bentuk kurikulum:
1.      Kurikulum yang berisi sejumlah mata pelajaran yang terpisah-pisah(separated subject curriculum)
2.      Kurikulum yang berisi sejumlah mata pelajaran yang sejenis di hubung-hubungkan(Correlated curriculum)
3.      Kurikulum yang terdiri dari peleburan semua/ hampir semua mata pelajaran(integrated curriculum)
4.      Prinsip yang Dianut dalam Pengembangan Kurikulum
Ada sejumlah prinsip yang digunakan dalam pengembangan kurikulum,diantaranya:
a.       Prinsip relevansi, Kurikulum dan pengajaran harus disusun sesuai dengan tuntutan kebutuhan dan kehidupan peserta didik
b.      Prinsip efektifitas, Berkaitan dengantingkat pencapaian hasil pelaksanaan kurikulum
c.       Prinsip efisiensi, Berkaitan dengan perbandingan antara tenaga, waktu, dana, dan sarana yang dipakai dengan hasil yang diperoleh
d.      Prinsip kontinuinitas, Kurikulum berbagai tingkat kelas dan jenjangpendidikan disusun secara berkesinambungan
e.       Prinsip Fleksibilitas,disamping program yang berlakuuntuk semua anak terdapat pula kesempatan bagi amak mengambil program-program pilihan
f.       Prinsip integritas, kurikulum hendaknya memperhatiakn hubungan antara berbagai program pendidikan dalam rangka pembentukan kepribadian yang terpadu

3. Tingkatan dalam Pengembangan Kurikulum
a.       Pengembangan tingkatan institusional Meliputi kegiatan pengembangan tujuan-tujuan institusional dan struktur program.
b.      Pengembangan tingkatan bidang studi / mata pelajaran
Setelah bidang-bidang studi di tentukan langkah selanjutnya ialah mengembangkan GBPP,dengan menempuh langkah sebagai berikut:
1.      Menetapkan tujuan-tujun kurikuler dan tujuan intruksional umumtiap bidang studi
2.      Mengidentifikasi topik-topik /pokok bahasan yang diperkirakandapat dijadikan sebagai bahan untuk dipelajari oleh murid agar mencapai tujuan yang telah dirumuskan
3.      Memilih topik-topik yang paling relevan, fungsional,efektif dan kemperhensif bagi pencapaian tujuan yang telah din identifikasikan
4.      Memetapkan metode dan sumber belajar untuk tiap kelompok pokok bahasan

E. Pengembangan tingkat operasional / kelas
Uraian tentang pengembangan tingkat operasional ini lebih di tekankan pada usaha guru dalam mengembangkan lebih lanjut GBPP.

F. Prinsip Dasar Pengembangan Kurikulum
            Prinsip-prinsip dasar kurikulum merupakan aspek yang harus dikuasai dan diperhatikan dalam pembinaan dan pengembangan kurikulum, sehingga sekolah memiliki program pendidikan yang sesuai falsafah hidup, kondisi dan kebutuhan siswa serta sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat.
1.      Pendekatan Pengembangan Kurikulum
Yang dimaksud dengan pendekatan pengembangan kurikulum adalah cara-cara yang dapat ditempuh atau dilakukan dalam mengembangkan kurikulum. Prof. Winarno Syrachmad (1977 ; 28) mengemukakan dua pendekatan dalam pengembangan kurikulum yaitu “pendekatan yang beorientasi pada bahan pelajaran dan pendekatan yang beorientasi pada tujuan pendidikan”.
Untuk mengetahui lebih jelas kedua pendekatan di atas, diuraikan di bawah ini sebagai berikut :
2.      Pendekatan yang berorientasi pada bahan pelajaran
                      Pendekatan yang berorientasi pada bahan pelajaran dilakukan, apabila bahan pelajaran dalam suatu kurikulum sudah tidak sesuai dengan tujuan pendidikan, tidak sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan siswa dan atau sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Untuk mengubah isi kurikulum dab bahan pelajaran ada beberapa cara yang dapat ditempuh yaitu :
1)      Prosedur mengganti buku pelajaran
2)      Prosedur meninjau pendapat-pendapat
3)      Prosedur meninjau kekurangan-kekurangan
4)      Prosedur laisser faire
5)      Prosedur tambal sulam
6)      Prosedur analisa aktivitas orang dewas
7)      Prosedur fungsi sosial
8)      Prosedur kebutuhan pemuda.

3.      Pendekatan yang beorientasi pada tujuan
              Pendekatan yang berorientasi pada tujuan pengajaran timbul dalam penyusunan kurikulum dengan rumusan pertanyaan : Tujuan apakah yang yang ingin dicapai atau diharapkan dimiliki setelah menyelesaikan kurikulum ini?Sebagai jawaban pertanyaan pertanyaan di atas, kemudian dirumuskanlah tujuan-tujuan pendidikan atau pengajaran yang diharapkan yang dimiliki murid.  .
              Tujuan pendidikan itu harus dianalisa, dari mulai rumusan tujuan. Pendidikan secara umum sampai kepada tujuan khusus, sehingga memudahkan guru dalam menganalisa hasil-hasil yang telah dicapai murid setelah kegiatan belajar
              Tokoh pendidikan yang bernama Herbert Spencer (1959) menganalisa tujuan pendidikan kepada :
1.      Self preservation, ia harus sanggup menjaga diri agar melakukan kegiatan demi kelangsungan hidup.
2.      Securing the necessities of life, ia harus sanggup mencari nafkah.
3.      Rearing a family, ia harus sanggup mendidik keluarga.
4.      Maintaining propersocial and political relationship, ia harus memelihara hubungan baik dengan masyarakat dan negara.
5.      Enjoying leisure time, ia harus sanggup menikmati waktu senggang.
            Usaha menganalisa tujuan pendidikan ini, dilakukan pula oleh ahli pendidikan lainnya, misalnya Franklin Babbit merumuskan 300 tujuan khusus dalam mata pelajaran berhitung. Sedangkan billings berhasil merumuskan 880 tujuan khusus dalam bidang studi ilmu pengetahuan sosial.
            Selanjutnya ditetapkanlah pokok-pokok bahan pelajaran atau isi kurikulum dan kegiatan belajar mengajar, yang kesemuanya diarahkan mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan.
            Penggunaan pendekatan yang berorientasi kepada tujuan penmgajaran ini, mungkin dirasakan terdapat kesukaran-kesukaran dalam merumuskan tujuan-tujuan pendidikan, apalagi bila tujuan-tujuan tersebut harus dijabarkan kepada tujuan yang lebih khusus.
            Adapun kelebihan dari pendekatan yang berorientasi pada tujuan ini dapat dilihat sebagai berikut :
  1. Tujuan yang ingin dicapai jelas,
  2. Tujuan yang jelas tersebut akan memberikan arah dalam menetapkan bahan-bahan, metode, jenis kegiatan, dan alat yang diperlukan guna mencapai tujuan.
  3. Tujuan-tujuan yang jelas tersebut akan memberikan arah di dalam mengadakan penilaian terhadap hasil yang dapat dicapai.
  4. Hasil penilaian yang terarah tersebut, akan membantu penyusunan kurikulum di dalam mengadakan perbaikan-perbaikian yang diperlukan.
            Atas dasar uraianh di atas, tampak pendekatan yang berorientasi pada tujuan (out put oriented) lebih besar manfaatnya, jika dibandingkan pendekatan pada bahan pelajaran.

G. Struktur Kurikulum di Min
Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata peljaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Kedalaman muatan kurikulum tiap mata pelajaran dituangkan dalam bentuk Kompetensi (Stanar Kompetensi dan Kompetensi Dasar) yang dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL)
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 6 ayat (1) menyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas komponen mata pelajaran, komponen muatan lokal dan komponen pengembangan diri:
a. Komponen Mata Pelajaran
Komponen mata pelajaran terdiri dari lima kelompok mata pelajaran, yaitu :
a)      Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.
b)      Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, dimaksudkan untuk peningkatan kesadaran dan wawasan peserta didik akan status, hak, dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia.
c)      Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi, dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menanamkan kebiasaan berpikir dan berperilaku ilmiah yang kritis, kreatif dan mandiri.
d)     Kelompok mata pelajaran estetika, dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas, kemampuan mengekspresikan dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni.
e)      Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan, dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta menanamkan sportivitas dan kesadaran hidup sehat.

b. Komponen Muatan Lokal
Muatan lokal dimaksudkan untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas madrasah dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada

c. Komponen Pengembangan Diri
Pengembangan diri dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah.
 


d.      Struktur Kurikulum di MIN
Struktur Kurikulum MI

K o m p o n e n
Kelas dan Alokasi Waktu

I
II
III
IV, V, dan VI
 A.  Mata Pelajaran
 
 
 
 

      1.   Pendidikan Agama Islam
 
 
 
 

a. Al Qur’an Hadits
2
2
2
2

b. Aqidah Akhlaq
2
2
2
2

c. Fiqh
2
2
2
2

d. SKI
2
2
2
2

      2.   Pendidikan Kewarganegaraan
2
 2 
 2 
2

      3.   Bahasa Indonesia
   5
 5 
 6 
6

      4    Bahasa Arab
 2
2

      5.   Matematika
 5
6

      6.   Ilmu Pengetahuan Alam
 3
5

      7.   Ilmu Pengetahuan Sosial
 2
3

      8.   Seni Budaya dan Keterampilan
 4
4

      9.   Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
 4
 
4

 B.   Muatan Lokal *)
 
 
 
 

a. Bahasa Jawa
2
2
2
2

     b. Baca Tulis Al Qur’an
2
2
2
2

     c. Bahasa Inggris 
2
2
2
2

     d. Teknologi Informasi dan Komunikasi
2
2
2
2

C. Pengembangan Diri
 
 
 
 

      1.Praktek Ibadah
2
2
2
2

J u m l a h
43
43
48
48




BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, didalamnya mencakup: perencanaan, penerapan dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik. Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri. Dalam pengembangan kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang, seperti : politikus, pengusaha, orang tua peserta didik, serta unsur – unsur masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan.
Prinsip dasar pengembangan kurikulum merupakan aspek yang harus dikuasai dan diperhatikan dalam pembinaan dan pengembangan kurikulum, sehingga sekolah memiliki program pendidikan yang sesuai dengan falsafah hidup, kondisi dan kebutuhan siswa serta sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat.


3.2. Saran
Akhirnya, dapat ditarik beberapa poin penting sebagai berikut: (1) Kurikulum pendidikan yang berlaku pada suatu masa sebenarnya telah berusaha mengadopsi semua kebutuhan belajar siswa. Kurikulum pendidikan senantiasa dilakukan penyempurnaan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dalam masyarakat dan melestarikan nilai-nilai budaya bangsa. (2) Suatu kurikulum harus dirancang secara komprehensif, integratif, berimbang antara berbagai tujuan pendidikan, dan adaptif serta bervisi kedepan, dan bukan semata-mata karena kepentingan politis. (3) Kompetensi dapat diartikan sebagai kebiasaan berpikir dan bersikap sesuai dengan konteks, dan yang diharapkan dari siswa sebagai hasil pendidikan adalah melakukan sesuatu selain secara kontekstual tetapi juga secara kreatif yang akan memperkaya khasanah budaya bangsa; (4) Diperlukan kesiapan dan dukungan baik dari guru, siswa, orang tua dan masyarakat dan pemerintah dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan dalam sistem persekolahan. (5) Era globalisasi yang ditandai dengan persaingan bebas antar-negara harus diimbangi dengan penerapan kurikulum yang menekankan pentingnya sikap kemandirian bangsa dalam membangun peradaban bangsa sendiri.

DAFTAR PUSTAKA


Hamka Abdul Aziz,”Membangun Karakter Bangsa”Pustaka Al Mawardi.Surakarta,2011
Heri Gunawan, S.Pd.I., M.Ag.” Pendidikan Karakter Konsep dan Implementasi” Alfabeta,Bandung,2011

John Mccain,Mark salter,”Karakter-Karakter yang Menggugah Dunia”Gramedia Pustaka Utama”Jakarta 2009

Supriyoko,Pendidikan Karakter Membangun Peradaban,Samudera Biru, Jakarta2011
Sutarjo Adisusilo,”Pembelajaran Nilai Karakter”,Rajagrafindo, Jakarta,2012
Yoyon Bahtiar Irianto,Kebijakan Pembaharuan Pendidikan,Rajawali Press,Jakarta,2012



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About